Sosok

Yunus Jubair, Seniman Lukis dengan Prinsip Idealis

Indrajatim.com | Surabaya – Di lantai dua tempat tinggalnya, menjelma menjadi sebuah studio karya seni. Di ruangan yang beratapkan asbes itulah, sehari-hari Yunus Jubair menghabiskan waktu untuk menuangkan cat dan tinta pada kanvas beragam ukuran.

1000 lebih lukisan yang dia hasilkan sejak 1990 silam. Tahun ini, 32 tahun sudah Yunus Jubair berkarya menjadi seorang seniman lukis. Surabaya, Oktober 1965, Yunus lahir dari seorang ibu, Wasi Kasiati yang sehari-harinya membuka toko kelontong. Bakatnya melukis datang dari ayahnya yang seorang seniman legendaris Indonesia, Amang Rahman.

Masa-masa sulit dialami sang ayah ketika mulai menjadi seorang pelukis. Lukisan tak laku terjual, membuat perekonomiannya menurun. Apa yang dia alami keluarganya membuat Wasi tak merestui Yunus menjadi seorang pelukis. Ibunya ingin dia berangkat bekerja memakai kemeja berdasi, sepatu pantofel lengkap dengan tas kulit yang dijinjing. “Ibu bilang, bekerja sebagai orang kantoran hidupnya akan lebih terjamin,” celetuknya.

Restu melanjutkan pendidikan dia dapatkan dari orangtua ketika berkuliah untuk menjadi seorang wartawan di Akademi Wartawan Surabaya (sekarang Stikosa). Tak sampai lulus, dua tahun dia di AWS memilih hijrah mengadu nasib ke Ibukota Jakarta. Di sana, dia belajar editing film di Sinematografi. Sudah 10 judul film yang dia garap pada era 80 an waktu itu.

Pasang surut, dunia perfilman yang semakin sepi justru membawa keinginannya belajar Seni Rupa di IKJ (Institute Kesenian Jakarta), tetapi dia ditolak. “Dekannya menyuruh saya belajar dari ayah saja. Yang dibutuhkan seniman itu pengalaman,” katanya. Akhirnya dia memilih belajar melukis secara otodidak, membaca buku-buku dengan membawa pengalaman sang ayah dalam dunia kesenian. Selain itu, pengalaman dia dapatkan ketika bergaul dengan para seniman seperti WS Rendra, Arifin C Noer, dan Ami Prijono.

Lukisan goresan tinta bolpoin karya Yunud Jubair (Indrajatim.com/muni)

“Jiwa lukisku memang mendapat pengaruh dari ayah. Tapi saya menekankan pada diri sendiri, harus memiliki prinsip karya, kreatifitas, dan penawaran berbeda,” tegasnya.

Jika ayahnya melukis dengan media kanvas dan cat minyak, Yunus lebih banyak melukis menggunakan media kertas dan tinta bolpoin. Katanya, banyak orang yang mengatakan, aliran seni lukisnya berbeda dengan sang ayah. Ayahnya yang condong surealisme, dia ekspresionisme dan metafor.

Pesan dari kawan-kawan seniman, Yunus menekankan pada dirinya, menjadi seorang pelukis jangan hanya terpaku pada karya yang komersil, tetap berpegang teguh pada prinsip idealis. Karena sebuah perlawanan tidak datang dari seniman lain, melainkan hawa nafsu diri sendiri.

Baginya, melukis tidak hanya sekadar menggoreskan tinta dan cat pada kanvas untuk menghasilkan gambar-gambar yang nampak. Untuk dapat dinikmati oleh masyarakat, lukisan diciptakan dengan rasa spiritualitas dan kekuatan batin dari pelukisnya.

“Kita menyajikan estetika pada publik, supaya rasa kita tersampaikan melalui visual lukisan, maka ketika melukis jiwanya harus tenang dan nalurimu harus bersih. Jangan ada tendesi lukisan ini akan laku atau tidak,” katanya.

Dalam kurun waktu 30 tahun lebih, Yunus telah berhasil memamerkan karyanya di beberapa daerah seperti Jakarta dan Surabaya. Keinginan besarnya, karya lukisannya bisa dinikmati dan dipertontonkan di kancah internasional. (INA)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button