Sosok

Prof. Yogi Sugito, Pentingnya Sustainable Agriculture

Indrajatim.com | Malang – Yogi Sugito, seorang ilmuwan Indonesia dalam bidang pertanian dan rektor Universitas Brawijaya Malang periode 2006-2014.

Mengemban jabatan secara berkala mulai dari, Ketua Program D-III Fakultas Pertanian (1985-1989), Ketua Lab Ekologi (1988-1990), Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian (1989-1995), Dekan Fakultas Pertanian (1995-2000), Pembantu Rektor Bidang Akademik (2000-2006).

Puluhan judul penelitian telah dihasilkan, termasuk dalam salah satu bukunya yang terkenal, Ekologi Tanaman (1999).

Menurut anda, bagaimana pertanian Indonesia saat ini?

Pertanian di Indonesia saat ini masih sangat jauh dari harapan, terutama dalam konsep pembangunannya. Meskipun pemerintah sudah mencanangkan konsep pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development). Padahal di negara maju, Sustainable Agriculture (Pertanian Berkelanjutan) sudah diterapkan sejak tahun 1980-an.

Bagaimana keterkaitan pertanian di Indonesia dengan konsep Sustainable Agriculture?

Bila mengacu pada Sustainable Agriculture maka poin utamanya adalah menjaga kelestarian pertanian dan lingkungan. Di negara maju sejak tahun 80-an sudah tak ada yang menggunakan pupuk kimia, apalagi disemprot dengan pestisida. Sedangkan di Indonesia, sedikit-sedikit disemprot, diberi pupuk kimia.

Apa dampak yang ditimbulkan dari pupuk kimia dan pestisida?

Di dalam tanah itu kan ada cacing, orong-orong, dan bakteri. Dengan pupuk kimia apalagi disemprot pestisida, hewan-hewan tersebut dapat mati. Maka opsinya bisa diganti dengan bahan-bahan organik yang tidak merusak lahan dan mengancam kesehatan bagi pengosumsi.

Jika dapat merusak lahan, lalu bagaimana kondisi lahan Indonesia saat ini?

Kondisi lahan di Indonesia sekarang itu sudah rusak. Dahulu, lahan sawah masih lebih baik. Sekarang lahan sawah pun sudah rusak karena program pemerintah yang jangka pendek. Bila kita mengingat pada era Pak Soeharto bagaimana lahan pertanian diganti oleh pembangunan. Kini, dengan pembangunan yang tak juga berhenti, lahan pertanian kian sempit. Bisa dibilang kita memiliki rumah tapi sulit untuk makan. Karena lahan pertanian yang sedikit dan hasil panen rendah. Akhirnya impor adalah jalan keluar satu-satunya.

Tahun 1952 Bung Karno memproyeksikan pertambahan penduduk yang akan berdampak pada kekurangan pangan. Bagaimana kaitannya dengan Sustainable Agriculture?

Proyeksi Bung Karno benar mengenai Sustainable. Memang, Sustainable Agriculture sudah dilaksanakan baik oleh nenek moyang kita seperti bergantian menanam jagung, kedelai, dan padi. Karena setiap tanaman hamanya berbeda, otomatis penyakitnya beda. Jadi itu adalah salah satu upaya yang dilakukan untuk membasmi hama secara organik.

Selain itu, permasalahan petani di Indonesia itu biaya produksi yang tinggi, untuk pemupukan kimia beli semprotan pestisida. Oleh karena itu dibutuhkan pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan. Bukan jangka pendek yang hanya bertahan sejenak.

Bagaimana menurut Anda soal impor komoditas pertanian ?

Nah, kita fair saja ya, sekarang ini kan era globalisasi, kalau ada yang lebih murah dan berkualitas, kenapa kita menanam sendiri. Petani kita bisa menanam dan diekspor tanaman yang harganya mahal dan dibutuhkan oleh negara lain. Sehingga petani pendapatannya meningkat dan sejalan dengan visi pertanian tadi yakni mensejahterahkan kehidupan petani.

Kebanyakan sekarang itu memaksakan menanam jenis tanaman yang tidak cocok dengan tanah di tempat tersebut. Tanamlah yang memang cocok dengan tanah tempat asal kalian. [BP/INA]

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button