Sosok

James Barnor, Perintis Perubahan Fotografi Ghana

Indrajatim.com – Berkarya lebih dari enam dekade, rutin melewati dua benua (Afrika dan Eropa) dengan merekam perubahan sosial dan politik melalui berbagai genre fotografi, dijalani Lelaki bernama lengkap Frederick Seton James Barnor hingga kini usianya 93 tahun. Bahkan mendirikan studio foto milik sendiri, sebelum Ghana resmi berbentuk Republik setelah merdeka dari Britania Raya, 1957.

Pada usia 17 tahun, James Barnor menjadi guru yang khusus mengajar ketrampilan menenun keranjang di Sekolah Misionaris, di Ghana. Dia kemudian diberi kamera Kodak Baby Brownie oleh Kawan sesama guru di Sekolah itu. Perjalanan fotografinya dimulai tahun 1946 dengan berguru pada sepupunya, JP Dodoo, Seorang Fotografer Potret Lokal.

Awal 1950-an, studio fotonya yang diberi nama Ever Young berdiri, di Accra, Ibukota Ghana. Selain memotret, dia juga lihai dalam teknik retouching (proses lanjutan yang lebih maksimal pada struktur pixel dalam editing foto) pada zaman itu.

Mulai dari foto studio, foto jurnalistik, Potret, Lifestyle, hingga Foto-foto Panggung (pentas-pentas seni, terutama musik), baik di Ghana maupun di Inggris, Ia lakukan puluhan tahun. Saat Ghana benar-benar merdeka, Barnor telah menjadi Jurnalis Foto pertama Ghana yang bekerja untuk surat kabar Daily Graphic, yang kemudian membuat ia memiliki akses untuk memotret Orang-orang terkenal.

Mendiang Malick Sidibe, Tokoh Fotografi Mali mengatakan, Barnor adalah seorang fotografer yang penuh semangat, pendekatannya yang lebih santai, tanpa basa-basi formalitas potret yang seringkali kaku kala itu. Di luar studio, dia menggunakan kamera genggam kecil untuk memotret dengan gaya yang lebih bebas dan jujur. Membawa alam dan suasana menjadi unsur kental yang masuk ke dalam frame-nya, dan itu adalah tindakan revolusioner yang diam-diam dalam dunia fotografi di Accra.

James Barnor saat mengunjungi Pusat Studi Afrika di Universitas Leiden (21 Maret 2016). Foto : Steyn Hoogakke

Pendekatan yang penuh keakraban itu dilakukan James Barnor saat negerinya bergerak menuju kemerdekaan. Dia memotret aktivitas nelayan pulang dari melaut, petinju yang sedang latihan, grup musik lokal, penumpang yang mengantri untuk naik bus, Anak-anak yang bermain, Perempuan-perempuan dengan berbagai gaya.

Dari arsip pribadinya, ada 32000 lebih hasil foto sejak tahun 1950 hingga 1980. Barnor telah mengadakan pameran tunggal selama tujuh belas kali dan pameran foto bersama sebanyak tujuh kali. Ketika diwawancarai The Guardian tentang arti dari nama Studionya (Ever Young), Barnor menjawab, “Jika seseorang datang, saya akan membuatnya terlihat lebih muda.”

Setelah mencoba menelusuri karya-karyanya, kami menemukan mayoritas hasil foto yang menggambarkan ekspresi kebahagiaan. Ia selalu berhasil akrab dengan narasumber dan Orang-orang yang dipotretnya sejak sebelum, dan sesudah dipotretnya, bahkan setelah bertemu kembali beberapa tahun kemudian. Melalui fotografi, James Barnor telah membuktikan, dibalik kepungan sejarah penuh tragedi, ada banyak sekali potret kebahagiaan melintasi berbagai zaman yang ia bagi. (Syarif WadjaBae)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button