Sosok

Ismail Marzuki, Pahlawan Nada Indonesia

Indrajatim.com | Surabaya – Lahir pada tanggal 11 Mei 1914, di tengah suasana tanah air masih dijajah, Ismail Marzuki tumbuh dalam asuhan keluarga yang berkecukupan dan religius. Ayahnya, Marzuki Saersan, seorang karyawan bengkel mobil ‘Ford Reparatie Atelier Tio’ yang juga turut aktif dalam kelompok musik rebana di kampung Kwitang Lebak, serta ibunya―yang tak disebutkan namanya di berbagai literatur.

Dengan tekad yang bulat, pria yang juga disapa dengan sebutan Bang Mail atau Bang Maing memilih untuk menjadi musisi, sebuah profesi yang jarang digeluti oleh sebagian masyarakat di masa itu. Bahkan ayahnya, Marzuki, menginginkan anaknya kelak untuk bekerja sebagai ambtenaar atau pegawai (pamongpraja) kantoran.

Berdasarkan buku karya Ninok Leksono yang berjudul “Seabad Ismail Marzuki: Senandung Melintas Zaman”, Ismail menempuh pendidikan sekolah dasar di HIS (Hollandsch Inlandsche School) dan setamat dari HIS, Ismail melanjutkan studinya ke sekolah menengah pertama pada zaman pemerintah kolonial Belanda, yaitu MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs), institusi pendidikan yang diperuntukkan bagi golongan elit pribumi golongan atas, orang Tionghoa, dan orang Eropa yang sudah lulus dari HIS. Ismail pun berkembang menjadi seorang remaja yang memiliki kemampuan berbahasa Belanda dan Inggris yang baik.

Pada masa tersebut, Ismail juga mendapatkan pengetahuan spiritual, karena Ayahnya, Marzuki menyekolahkannya ke Madrasah Unwanul Fallah yang didirikan tahun 1918 oleh Habib Ali AL Habsi, seorang Ulama yang terkemuka saat itu.

Karir Ismail, Sang Komponis

Selain bersekolah, masa kanak-kanak Ismail juga dihabiskan untuk menggeluti dunia musik. Ismail memiliki gramofon beserta koleksi piringan hitam dengan aneka lagu dan komposisi musik, seperti keroncong, jali-jali, cokek, gambus, hingga lagu-lagu dari Perancis, Italia, juga lagu-lagu Latin, dengan irama rumba, tango, samba, dan sebagainya.

Ismail kecil juga diselimuti oleh keberuntungan, karena selain koleksi piringan hitam yang dimilikinya, ia juga sudah mulai mengenal alat musik, seperti harmonika yang kemudian beralih ke mandolin. Beruntungnya lagi, meskipun sekolahnya sempat terganggu karena kegemarannya bermain alat musik, Ismail mampu menyelesaikan pendidikannya di MULO.

Rupa-rupanya, rasa cintanya terhadap dunia musik yang diturunkan dari ayahnya terus tampak nyata. Tidak cukup hanya bermain harmonika dan mandolin, Ismail mulai tertarik untuk belajar membunyikan alat musik gitar, ukulele, juga tertarik memainkan instrumen pengusung melodi seperti biola, akordeon, saksofon, serta piano. Sehingga, setidaknya empat sampai lima jam, Ismail habiskan untuk bermain alat musik perharinya.

Selepas masa sekolahnya dari MULO, Ismail mulai bekerja di Socony Service Station di Java Weg―Jalan Cokroaminoto Jakarta saat ini. Ia bekerja sebagai kasir dengan upah 30 gulden per bulan. Tak berselang lama, ia pun beralih mencari pekerjaan lain di perusahaan KK Knies di Noordwijk―kini menjadi Jalan Ir. H. Juanda, sebagai sales dan marketing alat musik dan piringan hitam bermerek Columbia.

Di KK Knies, ia pun mampu bekerja dengan sangat baik hingga meraih kesuksesan. Karena kecakapan dan penguasaannya di dunia musik, khususnya pada lagu-lagu di piringan hitam, Ismail mendapatkan banyak komisi dari penjualan piringan hitam, piano, dan radio.

Karir Ismail dalam dunia musik salah satunya ditandai dengan pertemuannya bersama Hugo Dimas, pemimpin Orkes Lief Java yang juga berprofesi sebagai pegawai tinggi di Departemen Kehakiman dan salah satu agen perusahaan KK Knies.

Ninok Leksono dalam bukunya juga menuliskan bahwa selain bermain musik, perjalanan karir Ismail Marzuki dimulai saat bergabung pada orkes musik Lief Java, waktu usianya menginjak 17 tahun, tepatnya pada tahun 1936. Saat di Lief Java, bakatnya di bidang musik tampak mencolok. Ia pandai memainkan alat musik banyo, Ismail juga bisa bernyanyi, komposer lagu, dan lain sebagainya. tak hanya itu, pria yang aktif membuat aransemen lagu Barat, keroncong, maupun langgam Melayu ini juga disebut sebagai orang pertama yang membawa alat musik akordeon dalam langgam Melayu.

Selama 27 tahun menjadi komponis, “O Sarinah”, lagu yang disebut sebagai lagu ciptaan pertamanya itu merupakan simbol dari kehidupan masyarakat Indonesia yang terjajah, diciptakan pada tahun 1931, lagu “O Sarinah” mengingatkan pula dengan buku yang ditulis oleh Bung Karno di tahun 1947, yakni “Sarinah”.

Karya Yang Abadi

Sejumlah 250 lagu telah diciptakan oleh Ismail Marzuki selama meniti masa karir yang gemilang sebagai komponis yang abadi di Indonesia. Sebagian besar lagu ciptaannya menggambarkan sebuah perjuangan dan cinta tanah air, dengan irama dan lirik yang sungguh bermakna, karya-karya yang ditulis oleh Ismail Marzuki mampu menyentuh sanubari setiap pendengarnya.

Melansir hasil penelitian dari Hardani SW yang bertajuk “Ismail Marzuki: Kompomis Lagu-Lagu Pejuangan”, pada masa penjajahan Jepang (1942-1945), Ismail Marzuki memiliki semangat yang semakin memuncak dalam berkarya. Setiap lagu yang ia tulis, tercipta dengan konsep yang semakin matang dan berkembang.

Pada tahun 1944, Ismail Marzuki menciptakan sebuah karya fenomenal berjudul “Rayuan Pulau Kelapa” yang begitu dikagumi oleh masyarakat hingga ke Mancanegara, bahkan menjadi karya yang tetap dikenang dan dinyanyikan sampai saat ini.

Karya-karya Ismail merupakan sebuah ciptaan yang populer di masa tersebut. dengan lirik dan irama yang mudah diingat dan bertemakan patriotisme, seperti “Halo-Halo Bandung” (1946), “Gugur Bunga” (1945), Pahlawan Merdeka (1945), “Sepasang Bola Mata” (1946), “Indonesia Pusaka” (1949), “Juwita Malam” (1950), “Sabda Alam” (1950), dan ratusan karya luar biasa lainnya.

Ia wafat pada 25 Mei 1958, karena penyakit paru-paru yang diderita olehnya. Hingga hari ini, nama Ismail Marzuki diingat oleh masyarakat sebagai seniman, bapak, maestro musik. Ismail Marzuki juga mendapatkan penghargaan dari pemerintah berupa “Piagam Wijaya Kusuma oleh Presiden Soekarno dan pusat kebudayaan yang diberi nama “Taman Ismail Marzuki” (TIM) yang bertempat di Cikini, Jakarta. Penganugerahan tersebut sebagai bentuk terima kasih kepada setiap karya-karyanya yang luar biasa serta jasa-jasanya dalam memotivasi perjuangan para Pahlawan dan semangat Nasionalisme. (Canty Nadya Putri)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button