Sosok

Herliyana: Waspadai Kondisi Depresi pada Anak dan Remaja

Indrajatim.com | Surabaya – Sosok Herliyana Isnaeni, M.Psi memilih jalan menjadi seorang psikolog keluarga dan anak sejak tahun 2010. Baginya, membagi cinta untuk orang lain dan keluarga menciptakan kesenangan tersendiri. Lea, panggilan akrabnya. Sebagian orang di sekitar, memberikan sematan dalam nama itu; Love, Ever, After.

Insight Consultant, ruang praktek konsultasi psikologi yang dia dirikan. Selain menjadi seorang psikolog, Lea juga aktif mengajar sebagai akademisi di Program Pendidikan Tasawuf dan Psikologi di Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya. Dia juga bahkan pernah menjadi tim Psikolog Dinas Kesehatan Kota Surabaya pada 2013-2015.

Dari pengalamannya tersebut, tak heran jika banyak keluarga yang berkonsultasi kepadanya untuk menyelesaikan problem hubungan antara anak dan orangtua.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukkan, lebih dari 19 juta penduduk berusia 15 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Dan 12 juta lebih penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Baca Juga : Suciwati Luncurkan Buku “Mencintai Munir”, Menguak Kisah Hidup dan Perjuangan Munir

Tingginya angka tersebut, Herliyana Isnaeni menjelaskan penyebab anak-anak dan remaja banyak mengalami kondisi mental illness. Berikut petikan wawancara khusus jurnalis media online indrajatim.com, Izzatun Najibah dengan Herliyana Isnaeni, M.Psi.

Konseling apa yang sering Anda tangani?

Kebanyakan yang datang konseling ke saya adalah ujung-ujungnya hubungan antara keluarga dan anak, hubungan pasangan, sibling. Jadi berangkat dari sana ternyata bisa mempengaruhi pola komunikasi dan interaksi seseorang itu dengan orang lain.

Menurut Anda, gangguan depresi itu seperti apa?

Depresi itu gangguan mood atau perubahan. Umumnya ditandai dengan perasaan sedih mendalam, merasa tidak semangat, tidak produktif, menarik diri dari sosial, merasa hidupnya tidak berharga. Minimal dua gejala muncul dua minggu secara continue. Itu merupakan warning.

Apa penyebab anak-anak dan remaja rentan depresi?

Sekarang ini tingkat stress dan depresi itu semakin tinggi. Karena anak-anak kita adalah anak gadget. Sehingga mereka terbiasa berinteraksi dengan dunia maya. Ketika mereka menghadapi dunia nyata, akan menjadi tantangan dan rentan membuat mereka stress dan depresi jika tidak diawasi. Lalu orangtua memberikan perintah, penekanan, permintaan. Sehingga membuat model tak ubahnya anak ini menjadi sebuah robot.

Jika gadget berpengaruh, apakah harus dijauhkan dari anak-anak?

Kita lihat usia dulu. Kalau usia dini sebaiknya iya. Kebanyakan orangtua memberikan gadget ke anak supaya bisa diam. Itu harus diawasi dan kasih batasan waktu. Kalau anak-anak SD-SMP tidak apa-apa mereka harus dikasik wadah untuk mengembangkan dirinya, perkembangan teknologi. Supaya mereka nggak insecure melihat teman-temannya lain yang ngerti teknologi.

Bagaimana tanda-tanda ketika anak-anak dan remaja mulai depresi?

Mereka mudah sekali tersulut emosinya dan cenderung agresif. Misalnya suka mem-bully orang lain, itu adalah tanda seseorang mengalami pengelolaan emosi yang rendah. Atau masih tantrum yang bukan usianya, misalnya anak SD kelas 5, atau SMP ketika diminta tolong atau meminta sesuatu, dia malah marah atau membanting barang, mengumpat, memaki, itu adalah sebetulnya ciri seseorang mengalami masalah pada mentalnya.

Tanda itu secara psikis, bagaimana gejala pada fisik?

Perubahan dalam fisik yang terlihat itu letih, lesuh, lemes, nggak semangat, nggak bertenaga, mungkin kepenginnya rebahan. Terus perubahan pola makan berlebih, mau banyak makan atau nggak mau makan. Pikiran ingin meninggal dan kecenderungan bunuh diri. Biasanya suka interaksi terus tiba-tiba enggak.

Bagaimana cara mengelola emosi yang baik?

Pengelolaan emosi itu harus diajarkan, nggak bisa sendiri. Dari mana? Pertama dari rumah. Jadi harus ada peran orangtua atau keluarga. Untuk orangtua dan orang dewasa, kalau misalnya emosi atau stress bisa me time terlebih dulu.

Apakah orangtua di Indonesia sudah aware soal depresi pada anak?

Kalau dibandingkan jumlah kasus dengan yang datang konsul itu njomplang banget. Artinya mereka belum aware. Padahal masalah depresi anak adalah hal yang penting. Karena anak sekarang sering self diagnose. Selama ini banyak orangtua yang mengeluhkan, anak saya kok suka marah-marah ya, suka menyediri, suka nangis, nggak punya empati. Ketika ditanya, apa sudah diajarkan? Bagaimana cara anak untuk merinteraksi dengan keluarga? Ternyata enggak, banyak orangtua yang sibuk dengan kerjaannya.

Lalu, bagaimana solusinya?

Perasaan atau emosi itu harus divalidasi. Tanyakan apa yang membuat anak marah, sedih, kecewa, Bahagia dsb. Menangis itu boleh itu harus divalidasi. Tanyakan perasaannya. Orangtua tidak boleh mengatakan tidak suka pada anak, harus jelas alasannya apa. tidak boleh bilang mama nggak suka ya tetapi bisa diganti dengan mama takut ketika kamu marah seperti ini. Orangtua jangan memberikan penekanan dan banyak minta pada anak. Pilar ini yang perlu digaungkan oleh orangtua. Ayo kita melek bersama, tumbuh bersama.

Menurut Anda, peran apa yang harus diberikan oleh pemerintah?

Pemerintah harus membuat regulasi UU yang mengatur, misalnya undang-undang kekerasan seksual karena itu berdampak pada stress dan depresi. Lalu sosialisasi dari hulu ke hilir soal peran orangtua dan anak. Pemerintah harus memberikan sanksi yang tegas kepada para pelaku pemerkosaan atau lainnya. Supaya orang melihat negara ini nggak main-main dalam melindungi masyarakat. (Izzatun Najibah/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button