Catatan Akhir Pekan

Literasi Indonesia Kini dan Nanti

Pasca tahun 1965, UNESCO memutuskan 8 september sebagai hari literasi internasional, atau hari melek huruf sedunia. sebuah peringatan sebagai upaya untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat. Setiap tahun, UNESCO mengingatkan komunitas internasional untuk selalu dalam kegiatan belajar. Hari Melek Huruf Internasional ini diperingati oleh seluruh negara di dunia. lantas bagaimana negara Indonesia memaknai peringatan tersebut? Dimana sesungguhnya keberadaan Dunia Literasi Indonesia? Pertanyaan semacam ini melahirkan kecemasan tersendiri bagi kita, juga ketidaktahuan disaat yang bersamaan. Atau perlahan, ditengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat ini, dunia literasi sengaja dilupakan oleh masyarakat kita? Bila tak ingin mengatakan “disingkirkan”.

Bagaimana tidak, UNESCO menyimpulkan bahwa 1 dari 1000 orang Indonesia rajin membaca. Survei dari Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) mengungkapkan pula, minat baca masyarakat Indonesia menempati ranking ke-62 dari 70 negara. Sementara, riset yang dilakukan Central Connecticut State University pada Maret 2016, menyebutkan Indonesia menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca pada masyarakatnya.

Hal ini menunjukkan betapa memprihatinkan tingkat literasi di negeri ini, sebuah penggambaran bagaimana terasingnya Dunia Literasi di Indonesia. Tak heran apabila penggiat literasi di Indonesia begitu terbatas, terlebih berbagai hambatan maupun persoalan, turut pula menyumbang buruknya dunia literasi di Indonesia.

Padahal seperti kita ketahui bersama, Literasi adalah bagian dari pendidikan. Artinya literasi sebagai proses pendidikan, berperan pula memajukan dan mencerdaskan anak bangsa. Amanah Konstitusi menjelaskan pula anggaran pendidikan sebesar 20% untuk pemerintah Provinsi dan Kabupaten/Kota yang diperuntukkan bagi pendidikan formal, informal, serta non-formal, baik sekolah ataupun universitas yang dikelola oleh pemerintah dan swasta.

Akan tetapi, ada yang sedikit rancu mengenai konteks anggaran pendidikan 20% ini, apakah diprioritaskan untuk ANSI (Anak Usia Dini)? atau untuk fungsi pendidikan? Sedangkan mimpi besar Indonesia ialah orang tua tak lagi perlu berpikir, bahkan khawatir bagaimana membayar uang sekolah anaknya.

Berita Lainnya

Lantas mengapa dunia literasi Indonesia masih jauh dari harapan? Tentu saja ada beberapa aspek yang turut serta berpengaruh dalam lambatnya pertumbuhan sekaligus perkembangan literasi di Indonesia.

Pertama, satu fakta yang jelas dan mungkin dasarnya telah disadari smua orang, yakni minat baca masyarakat yang rendah. Di zaman serba praktis seperti sekarang, bisa jadi aktifitas membaca tergantikan oleh masifnya aktifitas masyarakat di dunia maya. Masyarakat tidak harus membaca, untuk memperoleh sebuah informasi atau hiburan sekadar melepas penat, mereka cukup melihat, menonton dan mendengar dari media sosial semacam youtube, instagram, dan berbagai aplikasi sosial media lainnya. Ini pula yang kemudian mengkerdilkan minat membaca, bahkan minat berdiskusi pada masyarakat. Maka dampak yang terjadi ketika terjadi perbedaan, senantiasa mudah berselisih, dan bukan menemukan mufakat lewat diskusi cerdas, yang menawarkan perdebatan pengetahuan, sehingga mampu menemukan gagasan solutif bagi setiap perselisihan.

Selanjutnya yang kedua, peran pemerintah yang belum memiliki komitmen penuh dalam pengembangan dunia literasi di Indonesia menjadi problem tersendiri. Padahal keberadaan pemerintah, kehadiran pemerintah, pendampingan pemerintah diperlukan betul demi memajukan dunia literasi di indonesia. Bahwa kemudian peran tersebut dilakukan oleh perseorangan atau kelompok, tetap saja penggiat-penggiat literasi secara mandiri seperti mereka membutuhkan dukungan penuh dari pemerintah. Lebih tepatnya, alangkah baiknya bila pemerintah bergotong royong bersama para penggiat literasi agar semakin menumbuhkan minat baca masyarakat.

Kita sebagai masyarakat, beserta pemerintah harus menyadari betul bahwa literasi adalah bagian dari proses pendidikan anak bangsa. Jangan lupakan juga, jika Indonesia menyongsong Indonesia Emas di tahun 2045. Oleh karena itu, harus kita persiapkan betul anak-anak generasi penerus bangsa dengan sebaik-baiknya, agar anak-anak generasi depan Indonesia tak tertinggal dengan anak-anak generasi depan dari negara lain. Bukankah Indonesia diprediksi menjadi negara dengan perekonomian terbesar ke-5 di dunia pada tahun 2045? Semoga. Setidaknya bila mengacu pada data World Bank dan IMF (data Produk Domestik Bruto-Paritas Daya Beli). Namun sekali lagi harus kembali miliki kesadaran bersama, karena bonus demografi yang memuncak dengan prediksi menjadi tahun terbaik generasi bangsa ini, pada tahun 2045 tersebut, yang kiranya mampu menopang kemajuan ekonomi bangsa, akan pupus, bila generasi mudanya, tidak miliki daya membaca, yang mengabaikan dunia literasi.

Harapan terkadang akan menjadi ancaman, begitupan dalam menyongsong harapan tahun emas mendatang. Maka dalam pengembangan dunia literasi, sudah saatnya menjadi prioritas strategi pendidikan di Indonesia. Dan bukan sibuk soal metode, seperti yang sudah dijalankan dan lahirkan polemik tak berakhir, terkait zonasi sekolah, yang mungkin secara fungsi, tidak berkait dengan pertumbuhan literasi. Dan hal yang tidak bisa di kecilkan, adalah membangkitkan sektor pendidikan in formal dan non formal, karena tidak menutup kemungkinan dari sektor inilah kegiatan pendidikan yang cenderung miliki kemampuan mempertajam daya baca, sehingga menguatkan dunia literasi Indonesia.

September, 2021

Kusnadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button