Artikel

ACAB 1312, Sebuah Kode Perlawanan Terhadap Sistem Kepolisian

Indrajatim.com | Malang – Pasca tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang Jawa Timur (Sabtu 1 Oktober) yang memakan 131 korban jiwa, kode ACAB 1312 bermunculan di tembok-tembok stadion, terutama di sekitar gate 13, pintu dimana suporter Arema berdesakan keluar demi menghindari gas air mata yang ditembakkan polisi.

ACAB, yang kadang ditulis 1312 mengikuti urutan pada alfabet (A=urutan ke-1, C=urutan ke-3, B=urutan ke-2, adalah akronim dari bahasa Inggris “All Cops Are Bastards” (Semua Polisi Adalah Bajingan)―simbol yang kerap digunakan untuk mengakspresikan kemarahan terhadap perilaku polisi yang melampaui batas (lihat; Meaning of ACAB and 1312: A catchphrase in graffiti, tattoos or other imagery, Eric Sof, special-ops.org, 15 April 2022).

Tapi sejak kapan istilah ini digunakan?

Pada abad ke-19, Inggris menciptakan sebuah sistem pengamanan massa. Sistem yang terdiri dari satuan pengaman ini dikenal dengan istilah coppers (kepolisian) dengan keanggotaan yang direkrut dari kalangan sipil yang dipersenjatai. Tujuannya, untuk menggebuk petani miskin Irlandia yang berdemonstrasi, dan untuk mendisiplinkan para pekerja di kota-kota besar seperti London dan Liverpool. Dan celakanya, ketika terjadi kerusuhan, satuan pengaman ini lebih mendahukan melindungi orang-orang kaya ketimbang masyarakat biasa.

“Karenanya, banyak pihak yang tidak bisa mempercayai pledoi polisi buruk cuma satu oknum; kesatuan ini ibarat sebuah pohon yang busuk luar dalam dan hanya menebarkan racun,” tulis Victoria Gagliardo-Silver dalam esei sejarah munculnya istilah ACAB yang dipublikasikan surat kabar The Independent. Gagliardo menyatakan, sistem kepolisian sudah bermasalah sejak awal berdirinya karena diciptakan untuk mengadu sipil dengan sipil.

Berita Lainnya

Menurut jurnalis Newcastle Eric Patridge dibukunya A Dictionary of Catch Phrases, Istilah “All Cops Are Bastards” mulai populer di abad 20, dan secara tertulis terdapat pada lirik lagu rakyat Inggris di era 1920-an.

Ketika konsep kepolisian Inggris menyebar ke negeri Eropa lain (juga koloni mereka), istilah ACAB ikut pula diadopsi. Penduduk Prancis bahkan menerjemahkan ACAB sebagai “Tout le monde déteste la police”, yang secara harfiah berarti “semua orang benci polisi.”

Sepanjang era 1980-an, ACAB menjadi simbol anti-kemapanan terutama di kalangan punk dan skinhead dan semakin populer ketika tahun 1982 Band The 4-Skins asal London merilis lagu berjudul A.C.A.B. Selanjutnya, istilah ACAB dibawa ke seluruh dunia dari New York sampai ke Indonesia melalui musik punk yang menjadi semboyan bagi gerakan anarkis dan anti-otoriter. (Fahmi Faqih)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button