Surabaya

Wastra 1000 Asa, Eksistensi Wastra dari “Pemuda Berkain Surabaya”

Indrajatim.com | Surabaya – Sebanyak 17 karya instalasi wastra atau kain beragam bentuk yang bernilai filosofis, berjejer di ruang gallery yang kira-kira berukuran 30 meter x 10 meter di Unicorn Extension, Jalan Dharma Husada Indah, Surabaya. Kegiatan ini diinisiasi oleh komunitas “Pemuda Berkain Surabaya” dan berlangsung 3-10 Desember 2022.

“Akhir-akhir ini saya melihat teman-teman sedang suka mengaktulisasi dirinya di bidang seni dan beberapa kampus sudah menggelar exhibition. Kita ingin menunjukkan kalau wastra tidak sekuno itu, bahkan bisa diimplementasikan dan dibikin serius ke dalam karya-karya seni,” kata founder “Pemuda Berkain Surabaya” Gerak Samudra, Jumat (2/12) lalu.

Karya-karya itu hasil dari kreativitas tangan-tangan seniman-seniman muda yang melabeli dirinya sebagai pecinta wastra. Sebelumnya, Pemuda Berkain telah menggelar open submission atau pengajuan terbuka untuk memberikan kesempatan bagi anak-anak muda Surabaya dalam memamerkan karya wastranya.

“Kami open submission, jadi semua anak-anak di Surabaya bisa ikut serta dalam kegiatan ini. Tak hanya dari anggota Pemuda Berkain Surabaya. Dan saya tidak membatasi teman-teman untuk berkarya. Mau itu bentuknya seni rupa, drapping, makrame, atau lukis itu boleh dipamerkan. Asal berkaitan dengan wastra,” terang Gerak.

Sedangkan tajuk “Wastra 1000 Asa”, merurut pria yang akrab disapa Gee ini, ia ingin membuktikan bahwa wastra memiliki harapan untuk bisa eksis di segala lini. Sejatinya, selembar kain tidak hanya diaplikasikan dalam mode fashion atau penutup tubuh. Wastra juga dapat disulap menjadi karya instalasi seni yang penuh filosofis.

Seperti karya Ariba, Vina, Melly dan Frida yang mereka beri judul “UburUbur”. Instalasi makrame, yang menyentil keegoisan manusia tanpa melihat pentingnya menjaga ekosistem laut. Uniknya, kali ini “Pemuda Berkain” mengusung Batik Kawula sebagai ikon Wastra 1000 Asa. Batik Kawula sendiri merupakan selembar kain putih yang sudah dipola.

Pembuatan motif polanya “Pemuda Berkain Surabaya”, berkolaborasi dengan Batik Fractal. Terciptalah motif semanggi yang terinspirasi dari makanan khas Surabaya dan logo “Pemuda Berkain Surabaya”. Di instalasi Batik Kawula, setiap pengunjung dapat menggoreskan canting lilin panas ke pola yang sudah tergambar.

“Batik semanggi ini memiliki makna ‘Semangat Tinggi’. Sehingga mencerminkan semangat Surabaya dalam menjaga persatuan dan perdamaian. Kami juga ingin melelang batik ini karena value-nya besar. Kalau ada yang mau beli, hasilnya akan dialokasikan ke pembinaan branding UMKM pengrajin wastra, supaya anak-anak muda tertarik membeli wastra,” papar Gee.

Selain menggelar pameran karya di Unicorn Extension di Jl Dharma Husada Indah Surabaya, Pemuda Berkain Surabaya juga menggelar kegiatan serupa namun dilaksanakan di Unicorn HQ, Rungkut Industri Surabaya.

“Kami melihat semangat yang luar biasa dari teman-teman, sehingga memutuskan untuk digelar di dua tempat. Yang di Rungkut kami menampilkan karya temanya Wastra dan manusia,” tutur pria asli Surabaya tersebut.

Baginya, wastra tidak cuma diinterpretasikan ke berbagai macam karya, lebih dari itu, wastra itu erat dengan kehidupan manusia. Mulai dari dalam kandungan, lahir, tedak sinten, pernikahan, hingga kematian yang tetap menggunakan kain.

Pameran “Wastra 1000 Asa” di Unicorn Extension ini dibuka langsung oleh Wakil Walikota Surabaya, Armuji. Dalam sambutannya, Armuji berharap kepada generasi muda Surabaya untuk terus berkarya di berbagai bidang kesenian.

“Kegiatan anak-anak muda yang saya kira harus mendapat support atau dorongan karena mereka berdikari, bergerak di bidang Event Organizer (EO), tapi karya-karyanya cukup bagus. Apalagi ada pihak swasta yang mau peduli untuk memberikan ruang terhadap karya-karya mereka,” ujar Armuji.

Sementara itu, CEO Unicorn Extension, Aldridge Tjiptaharadja juga berharap adanya sinergi antara seniman dan pemerintah dalam setiap penyelenggaraan event.

“Warga Surabaya akan selalu disuguhi dengan exhibition yang baru, salah satunya melalui wastra ini. Kami berharap kepada pemerintah untuk ikut menggandeng seniman-seniman muda dalam berkarya, baik dari segi pendanaan maupun konsep,” tutur Aldridge. (Izzatun Najibah/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button