Surabaya

Tuti Budirahayu: Gangster, Bagian dari Penyimpangan Kenakalan Remaja

Indrajatim.com | Surabaya – Sosiolog Dr. Tuti Budirahayu, Dra, MA merupakan akademisi yang bertugas di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Tuti juga pernah menjabat sebagai konsultan provinsi untuk UNICEF (United Nations Children’s Fund), yaitu organisasi internasional untuk anak di bawah naungan PBB, pada tahun 2001.

Tuti juga konsen pada bidang sosiologi kriminologi. Ia telah menghasilkan banyak penelitian, ikut lokakarya, pengabdian maupun publikasi terakit isu-isu keluarga, anak dan remaja. Bahkan dalam waktu dekat, perempuan kelahiran 12 Mei 1968 ini akan meluncurkan buku tentang kekerasan di lingkungan sekolah.

Masif melakukan penelitian tentang isu anak dan remaja, Tuti tentu bersentuhan erat dengan fenomena yang kini mencuat di Surabaya, yaitu soal gangster. Dari kosa katanya, gangster punya makna penjahat, bandit maupun anggota geng atau kelompok orang yang punya kegemaran berkelahi, membuat keributan.

Dalam kurun waktu beberapa minggu terakhir, fenomena gangster di Surabaya memang ramai diperbincangkan. Penyerangan, penjarahan, hingga percobaan pembunuhan terus disorot media dan jadi perhatian masyarakat.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Tuti Budirahayu menjelaskan beberapa faktor penyebab hingga proses penanganan gangster. Berikut petikan wawancara khusus jurnalis media online indrajatim.com, Izzatun Najibah dengan sosiolog Unair Dr. Tuti Budirahayu, Dra, MA.

Berita Lainnya

Bagaimana tanggapan Anda terkait fenomena gangster di Surabaya?

Pola gangster di Surabaya ini mirip dengan klitih. Fenomena ini masuk dalam kategori deviate sub-culture delinquent atau penyimpangan kenakalan remaja. Bentuk kejahatannya memang sangat ekstrem, bahkan bisa menjadi tindak kriminal. Karena mereka menggunakan sajam, terus membuat keonaran, menyerang. Saya rasa ini bentuk penyimpangan.

Apa sih tujuan dari aksi para gangster ini?

Eksistensi diri. Mereka melakukan itu dengan sengaja. Dari sisi inferioritas, atau rasa rendah diri, mereka merasa kalah dalam kehidupan sosial, sehingga mencari eksistensi pada orang-orang yang bisa menerima mereka.

Anda melihat faktor-faktor internal yang melatarbelakangi munculnya fenomena gangster tersebut?

Ketika ditolak lingkungannya, mereka akan semakin solid dan berani untuk melakukan kejahatan secara bersama-sama. Ada norma dan nilai yang saling menguatkan dari kelompok mereka. Karena antar-orang di kelompok itu sesama menyimpang, saling berinteraksi, sehingga akan menguatkan tindakannya.

Lalu untuk faktor eksternal-nya bagaimana?

Di lingkungan keluarga, mungkin mereka berada di keluarga yang broken home, tidak harmonis, tidak kondusif. Artinya, muncul ketidakpuasan. Lalu di pendidikan, adanya sistem pembelajaran yang tidak menyenangkan. Akhirnya, membuat mereka tidak nyaman.

Mereka tidak dilibatkan dalam proses pembelajaran secara intensif. Bisa jadi, ada kekerasan di dalam sekolah, apalagi kalau ada kekerasan verbal seperti bullying. Ini yang dampaknya berpotensi untuk melakukan kekerasan di lingkungan luar.

Apakah perlu ada perubahan pada sistem pendidikan kita?

Harus. Para guru atau pengelola lembaga pendidikan perlu menciptakan aktivitas di sekolah agar tidak “kering”, artinya di sekolah jangan cuma belajar akademik thok. Antara akademik, non-akademik, dan moral harus seimbang. Jadi bagaimana pendidikan ini bisa menyentuh jiwa murid, sehingga bisa menciptakan kenyamanan. Mereka yang tidak tidak mendapat sentuhan kasih sayang dari teman atau guru, berpotensi membentuk kekerasan karena mereka mencari pelampiasan di luar sekolah.

Anggota gangster itu ada yang bukan pelajar. Bagaimana proses meluruskan tindakan menyimpang mereka?

Dari proses pergaulan, kita lihat apakah mereka bergaul dengan orang-orang yang memang sudah menyimpang atau tidak. Biasanya iya. Ada asumsi jika mereka sudah lama bersama kelompok itu, maka semakin bertambah usia, kemampuan dia untuk melakukan tindak menyimpang tidak hanya satu. Biasanya juga diikuti dengan bentuk-bentuk lain. Bisa dikatakan ini penyimpangan, ketika mereka sudah dewasa.

Bisa juga karena social frustration. Mereka tidak mendapat pekerjaan atau tidak diterima oleh masyarakat, karena pernah teridentifikasi sebagai pelaku kejahatan. Jadi muncul stigma. Ketika masyarakat menyingkirkan keberadaan anak-anak muda yang mengalami dis-orientasi, nggak sekolah, pengangguran, ketemu anak-anak deviate, jadi lah mereka menjadi sub-culture.

Apakah langkah aparat dengan melakukan penangkapan bisa memunculkan efek jera?

Tergantung hukuman dan penerimaan masyarakat ketika mereka kembali. Kalau tidak memberikan efek jera, mereka akan melakukan tindakan yang sama. Atau ketika mereka keluar tidak diterima oleh masyarakat, maka mereka akan berpikiran untuk kembali ke Lapas saja. Ada yang seperti itu.

Peran Lapas sangat dibutuhkan. Di sana kan mereka diberi pembinaan atau re-sosialisasi. Ketika mereka kembali ke masyarakat supaya tidak mendapat perlakuan yang buruk, mereka harus punya bekal. Lalu, jangan sampai mereka didekati lingkungan lama mereka. Tapi harus support system.

Menghadapi hal itu, sikap seperti apa yang harus dimunculkan oleh masyarakat?

Susah memang menghapus stigma di masyarakat, kecuali kalau dia sudah memastikan bahwa dia benar-benar bisa dipercaya. Mereka perlu dibantu untuk bisa membuat mereka lebih berharga dan diterima atau dipercaya kembali.

Lalu bagaimana dengan peran pemerintah?

Anak-anak remaja itu nggak semua baik-baik saja. Harus ada lembaga di bagian dinas sosial, ketika mereka tidak sampai pada proses hukum. Bisa masuk ke dinas sosial untuk mendapat binaan. Tapi nggak tahu penangangannya sekarang, tapi kalau pelaku sudah masuk Lapas, bisa berpotensi malah menjadi semakin keras, istilah awalnya dari kelas teri jadi masuk kelas kakap.

Jika keluarga, masyarakat dan pemerintah bersinergi, apakah fenomena gangster ini bisa bubar?

Fenomena ini akan terus ada. Sepanjang faktor yang menjadi pemicu di dalamnya terus ada. Jadi sangat susah, bahkan tidak bisa hilang. Bisanya diminimalisir bagaimana anak-anak dan remaja ini akan tereliminasi dari tindakan-tindakan seperti itu. Fungsikan lembaga penegak hukum, lembaga sosial agar bisa mengantisipasi kelakuan mereka. (Izzatun Najibah/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button