Surabaya

Radio Braille Surabaya, Media dan Advokasi Disabilitas

Indrajatim.com | Surabaya – Bagi sebagian orang, mendengar kata Radio akan terbayangkan dengan alat media komunikasi yang massif digunakan pada era 80-an. Penyampaian informasi yang termasuk viral sat itu.

Seiring ditemukannya internet dan sinyal digital, itu yang kemudian mengubah cara transmisi sinyal radio. Media komunikasi ini pun semakin mengikuti perkembangan zaman. Pancaran audionya bisa dinikmati melalui genggaman ponsel. Suara yang dihasilkan dari radio cukup membantu Tuna Netra dalam menerima dan mengolah informasi.

Radio Braille Surabaya (RBS), berupa channel youtube, mulai dirilis Lembaga Pemberdayaan Tuna Netra (LPT) sejak tanggal 3 Desember 2022. Sekaligus memperingati Hari Disabilitas Internasional.

“Kami melihat perlunya sebuah media yang bisa memfasilitasi kami dalam menyuarakan hak-hak disabilitas. Jadi intinya, RBS ini muncul karena ingin memperluas pemahaman masyarakat tentang disabilitas. Ini tidak banyak dimunculkan sama media mainstream (arus utama-red),” kata ketua LPT sekaligus pimpinan redaksi RBS, Tutus Setiawan, Sabtu (3/12).

RBS dikelola oleh empat anggota LPT, yaitu Tutus Setiawan, Atung Yunarto (Koordinator Perencanaan Konten), Sugi Hermanto (Koordinator Produksi) dan Hana Abdullah (Koordinator Kontribusi Konten).

“Kami membicarakan tiga konten. Pertama, edukasi. Kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang disabilitas. Kedua, ekspresi, tentang potensi-potensi dan bakat teman-teman disabilitas, dan terakhir isu disabilitas, mengupas isu politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan dari sudut pandang disabilitas,” terang Tutus.

Menyematkan kata “Radio” tetapi penyebaran informasinya melalui youtube tak lepas dari keterbatasan Tuna Netra dalam menampilan informasi secara visual.

“Kami sadar, kemampuan kami terbatas dalam menampilkan hal-hal visual seperti yang lain. Tapi akan menonjol sisi auditif. Informasi-informasi yang kami tampikan nantinya juga akan lebih detail,” tutur Sugi.

Selain itu, dengan semakin meluasnya pangsa pasar pemakai youtube selama beberapa tahun belakangan ini, menjadi alasan bagi RBS untuk menjelmakan diri menjadi media yang inklusif.

“Kami sadar bahwa sebuah media tidak luput dari konsumen (masyarakat-red). Kami memilih youtube karena pertimbangannya, pengguna youtube sangat besar secara persentase. Melihat peluang bahwa di youtube sangat besar. Ini mewarnai pengguna youtube secara kuantitatif dengan pemahaman tentang disabilitas,” tambah Sugi.

Sebagai media inklusif, RBS tidak hanya berkolaborasi dengan sesama disabilitas tetapi juga bersama para kontributor umum. Terlebih, tagline RBS yang tersemat yakni “Suara Inklusifitas”.

Proses munculnya RBS tak lepas dari kontribusi AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Surabaya. dalam memberikan pelatihan seputar jurnalistik, dan manajemen media. Pelatihan tersebut sudah dimulai sejak tiga bulan terakhir.

“Kami memberikan pelatihan-pelatihan baru, misal soal latihan olah pernapasan karena mereka harus bicara. Lalu script pendek dalam bentuk draft yang ditulis bukan dari Hp tapi dalam format tulisan braille,” ucap Ketua AJI Surabaya, Eben Haezer.

Tak hanya pra-produksi, AJI Surabaya juga berkontribusi dalam proses produksi hingga publikasi. Seperti pengambilkan video atau gambar, editing hingga upload video.

“Kami juga membuka peluang bagi teman-teman lainnya untuk memberikan dukungan dalam sisi produksi maupun publikasi. Karena nantinya kami juga ingin berkolaborasi dengan teman-teman tuna rungu, tuna wicara dan sebagainya,” papar Eben.

Salah satu informasi seputar disabiltas yang bisa ditonton melalui channel RBS yaitu tentang pemenuhan akses disabilitas dalam transportasi umum bus Surabaya.

RBS juga tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi yang memberikan informasi disabilitas. Menurut Eben, RBS menjadi sebuah wadah untuk ruang advokasi bagi kawan-kawan disabilitas. (Izzatun Najibah/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button