Surabaya

Kurangnya Aksesibilitas Tuli di Ruang Publik

Indrajatim.com – Surabaya: Sebagai seorang Tuli, tak sedikit perlakuan diskriminasi yang diterima oleh Ika Irawan dan Teman Tuli lainnya. Menurutnya, aksesibilitas Teman Tuli sangatlah terbatas, pemerintah yang belum serius, serta banyak masyarakat yang kurang memahami bahasa isyarat menjadi beberapa faktornya.

Pengalaman pahit pernah diterima oleh Ika Irawan saat mencoba melamar pekerjaan di sebuah perusahaan. Terbatasnya pemahaman tentang bahasa isyarat antarpegawai dan pimpinan perusahaan membuat Ika Irawan tidak mendapatkan pekerjaan tersebut.

“Saya mencari kerja tapi infonya tidak jelas. Mencoba melamar dibilang ‘tunggu-tunggu, nanti ada informasi lagi’. Ternyata bosnya tidak bisa berbahasa isyarat, di perusahaan itu tidak ada JBI (Juru Bahasa Isyarat) dan bosnya tahu kalau saya Tuli. Akhirnya tidak diterima kerja karena yang dibutuhkan bisa berkomunikasi,” kata pria yang akrab disapa Wawan ini.

Nasib baik datang padanya saat mencoba melamar di sebuah restoran cepat saji. Menurutnya, restoran tersebut cukup ramah terhadap disabilitas. Hal tersebut membuatnya bertahan bekerja selama 15 tahun hingga akhirnya restoran tersebut ditutup karena bangkrut.

“Di sana bosnya juga belajar bahasa isyarat dan barang-barang diberi keterangan bahasa isyarat,” jelasnya.

Namun, Wawan menuturkan bahwa saat ini tidak banyak restoran cepat saji yang ramah terhadap Teman Tuli. Sistem layanan Drive Thru misalnya. Sebagian besar restoran cepat saji memberikan layanan Drive Thru dengan proses pemesanan melalui suara konsumen. Selain itu, hambatan yang diterima oleh Teman Tuli juga dirasakan saat menaiki transportasi umum. Kurangnya display teks dan JBI di ruang publik cukup menyulitkan Teman Tuli.

“Misalnya kalau di transportasi umum, tidak ada display teks atau JBI yang menjelaskan tujuan transportasi. Kalau cuma suara saja kami tidak tahu, sehingga kami bisa tertinggal,” ujarnya.

Menurut keterangan Wawan, tak sedikit Teman Tuli yang melakukan advokasi terhadap instansi terkait fasilitas umum yang ramah kepada Tuli. “Kami sudah sering melakukan advokasi tapi tetap saja orang cuek. Jadi kami memilih untuk mensosialisasikan bahasa isyarat saja,” tuturnya.

Minimnya penyediaan JBI juga dirasakan Tuli saat bersentuhan dengan sistem hukum. Tak jarang, Teman Tuli justru menjadi korban karena dianggap tidak dapat berkomunikasi dengan baik.

“Dulu, ada Tuli yang mengalami pelecehan tapi tidak ada yang percaya, banyak yang berpihak kepada pelaku. Tuli tidak bisa menjelaskan kronologi karena tidak ada bantuan JBI,” ungkapnya.

Selain itu, di antara masyarakat umum, masih menjadi perdebatan terkait penyebutan Tuli dan Tuna Rungu. Wawan menjelaskan, penyebutan Tuna Rungu merupakan salah satu bentuk diskriminasi terhadap Tuli.

“Kami memiliki dunia yang namanya Tuli. Penulisan untuk Tuli juga T-nya menggunakan kapital, hal itu sebagai identitas bahwa kami memiliki kemampuan bahasa isyarat dan kami memiliki pemikiran luas. Kami bangga atas identitas itu. Sedangkan, tuna rungu merupakan istilah medis, artinya pengerangan yang rusak, Tuli hanya tidak bisa mendengar, keduanya memiliki makna yang berbeda,” jelasnya.

Baginya, Tuli dan Dengar memiliki kedudukan yang setara. Tuli berkomunikasi melalui gerakan bahasa isyarat, sedangkan Dengar berkomunikasi melalui suara.

Proses wawancara ini dibantu oleh JBI (Juru Bahasa Isyarat), Nana. [Izzatun Najibah]

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button