Indrapura

Sanggar Lidi Surabaya Lakukan Audiensi Bersama Anggota Komisi E DPRD Jatim

Indrajatim.com – Surabaya: Sanggar Lidi Surabaya melakukan audiensi dengan anggota Komisi E DPRD Jawa Timur pada Senin (10/10) siang. Selain audiensi, Sanggar Lidi Surabaya juga menampilkan salah satu dari 14 fragmen adegan naskah Gayatri karya Totenk MT Rusmawan yang akan dipentaskan pada 18-20 Oktober 2022 di Gedung Kesenian Cak Durasim, Komplek Taman Budaya Jawa Timur, Genteng Kali, Surabaya

Audiensi ini dipimpin oleh Sri Untari Bisowarno dengan didampingi oleh Hartoyo, dari Komisi E DPRD Jatim

Pada kesempatan itu, Pembina Sanggar Lidi Surabaya, Bagus Priambodo menyampaikan beberapa gagasan terkait begaiamana mengejawantahkan UU No.5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Harapannya agar DPRD Jatim bisa bersinergi dengan kelompok-kelompok seni (Seniman), dan Budayawan, menyusun suatu langkah baru dan kongkrit untuk perkembangan kebudayaan Jawa Timur.

“Strategi kebudayaan wajib dielaborasikan dan diwujudkan secara gotong royong,” Kata Bagus Priambodo. Sehingga menurutnya, untuk memajukan kebudayaan perlu adanya sinergi antarpelaku budaya, masyarakat dan pemerintah.

“Kesenian bukan hanya sekedar ruang untuk menjaga eksistensi pengkaryanya, melainkan kesenian memiliki andil di dalam mewujudkan sebuah peradaban yang baik,” lanjutnya.

Bagus menjelaskan, seni berdasarkan aktivitasnya terbagi menjadi tiga, produksi karya, distribusi karya, dan konsumsi karya.

“Masing-masing aktivitas itu memiliki tantangan sendiri. Masing-masing aktivitas itu juga dituntut untuk mampu melakukan upgrade secara kualitas dan kuantitas,” ujarnya.

Selain menjaga daya untuk tetap konsisten berkarya, seniman juga dihadapkan pada sejumlah masalah. Salahsatunya, fasilitas yang disediakan oleh pemerintah dibanderol dengan tarif yang cukup tinggi.

“Kemudian dari segi distribusi tentu berkaitan dengan sarana dan prasarana. Pengalaman kita, ketika menggunakan Gedung Cak Durasim, memang bagus. Tapi sewanya sehari terbagi menjadi dua shift, per shiftnya 7 sampai 7,5 juta,” ungkap Bagus.

Sementara itu, di Teater kecil di Taman Ismail Marzuki Jakakrta dengan kapasitas sama seperti Gedung Cak Durasim mematok harga sewa 3 juta rupiah perhari.

“Ini sangat memudahkan seniman di Jakarta atau di luar Jakarta,” tuturnya.

Penyerahan simbolis merchandise Dharma Seni Untuk Negeri V, Totenk MT Rusmawan bersama Sri Untari Bisowarno (indrajatim.com/Cak Su)

Sementara itu, anggota Komisi E DPRD Jawa Timur Sri Untari Bisowarno menjelaskan bahwa harga sewa kesenian Cak Durasim terbilang tinggi dan menjadi hambatan bagi para seniman. Dia berharap Gedung Cak Durasim dapat digratiskan untuk kegiatan-kegiatan seni budaya.

“Dari laporan teman-teman Sanggar Lidi Surabaya akan langsung saya cek. Karena anggaran biaya yang diutarakan tadi sehari bisa sampaii 15 juta. Kalau untuk pernikahan tidak masalah, tapi ini untuk kesenian. Kalau bisa digratiskan,” kata Untari.

Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim itu mengatakan bahwa seharusnya pelaku seni mendapat ruang dalam menciptkan karya. Karena hal tersebut menjadi upaya mendukung pelestarian budaya Jawa Timur.

Hal serupa juga diungkapkan oleh anggota Komisi E lainnya, Hadi Dediansyah. Dia berjanji akan menyupayakan agar biaya penyewaan Gedung Cak Durasim akan digratiskan untuk kegiatan kesenian. (Izzatun Najibah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button