Kabar Jatim

Ekspedisi “Jawa Dwipa” Ungkap Tsunami dan Gempa di Masa Lampau

Indrajatim,com | Sidoarjo – Tim peneliti Jawa Dwipa menemukan adanya pengetahuan lokal, terkait mitigasi bencana alam di masa klasik hingga kolonial dan kemerdekaan. Penemuan tersebut dibuktikan melalui situs relief candi, artefak, prasasti, sastra lama, hingga memori kolektif masyarakat setempat.

Hasil tersebut disampaikan dalam konferensi pers di ruang pertemuan Gedung BPBD Provinsi Jawa Timur, Sidoarjo, pada Kamis (1/12) sore. Sebagai informasi, Jawa Dwipa merupakan ekspedisi yang dilakukan oleh 13 peneliti dari berbagai disiplin ilmu, seperi sejarah, arkeologi, sosiologi, antropologi dan geologi.

Ekspedisi Jawa Dwipa menelusuri sesar aktif di beberapa wilayah di Pulau Jawa, untuk mengungkap pengetahuan masyarakat di masa lampau, terkait mitigasi gempa dan tsunami.

“Kami mendapatkan banyak cerita menarik dari pengetahuan lokal, memori kolektifnya soal peninggalan sejarah yang terkait bencana,” kata Ketua Peneliti Ekspedisi Jawa Dwipa, Lien Sururoh.

Sebagai tahap awal, tim ekspedisi melakukan penelusuran di Pacitan, Malang, Banyuwangi, Situbondo, Mojokerto, Blitar, Surabaya, Sidoarjo hingga Tuban. Penelusuran dilakukan selama 20 hari, pada November 2022. Di kota-kota tersebut, tim ekspedisi Jawa Dwipa meneliti berbagai situs candi, prasasti, watu gong.

“Di masa klasik, Candi Badut perkiraan kami di situ pernah terjadi bencana atau gunung meletus, karena lingga yoni-nya masih utuh. Berbeda dengan Candi Singosari yang sudah tidak punya lingga yoni karena serangan musuh,” ungkap Lien.

Lingga yoni merupakan simbol sakral yang biasanya diletakkan di ruang utama candi. Lingga yoni dinyatakan hancur atau hilang, menjadi penanda bahwa candi tersebut pernah diserang musuh.

Hal serupa dapat dilihat pada Candi Jago. Dalam pengamatan Jawa Dwipa, Candi Jago menyisakan relief yang menceritakan bencana seperti ketika Arjuna melewati hujan badai gelombang tinggi. Selain itu, ada relief air laut naik.

“Lalu di Candi Sawentar ditemukan batu andesit. Dari ingatan kolektif warga, tahun 1966 Desa Sawentar penah dilalui jalur lahar dingin erupsi Gunung Kelud,” tambah Lien.

Di Mojokerto, Situs Kumitir pernah ditutupi dua lapisan sedimen. Diduga, karena sedimentasi bekas banjir bandang dan endapan kedua diduga dari gunung berapi terdekat. “Kemudian di prasasti Warunggahan (1305 M) itu tertulis bahasa Jawa kuno yang memiliki arti prasasti itu hilang ketika bumi berguncang,” tutur Lien.

Ditemukannya bukti dugaan pernah terjadi bencana di masa lampau, yang terungkap di candi, maupun prasasti membuktikan bahwa pada zaman itu masyarakat lokal telah memiliki pemahaman terkait bencana dan mitigasinya.

Zaman dulu, di beberapa kalangan masyarakat di Jawa Timur berkembang istilah Lindu yang berarti gempa, lalu di Pacitan disebut Pasang Grasa. Sedangkan masyarakat Banyuwangi menyebut tsunami dengan istilah Banyu Lampeg (air naik).

“Dalam kitab Hariwangsa, masyarakat Jawa Kuno mengenal tsunami dengan istilah Rwaba atau Rob,” ujar Lien.

Pengatahuan lain yang ditemukan Jawa Dwipa terdapat dalam kitab Waosan Tholodo Sholawat Nabi Budoyo Jawi. Pada bait pertama, mengajak masyarakat untuk mencari ilmu supaya selamat dari azab dan bencana.

Selain melakukan ekspedisi penelusuran langsung, Jawa Dwipa juga mengaitkan berbagai sumber literatur dan wawancara penduduk setempat sebagai bukti pendukung. Misalnya, pengambilan data perihal tsunami di masa kolonial dan kemerdekaan.

“Pada 4 Januari 1840 itu pernah terjadi gempa di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tanggal 20 Oktober 1859 itu pernah terjadi tsunami di Pacitan. Lalu 4 November 1972 gempa di Blitar,” papar Abdurrahman Heriza.

Gempa-gempa dan tsunami tersebut terus terjadi di wilayah pesisir Jawa dari tahun 1994 hingga yang terakhir di Malang, 10 April 2021 dengan kekuatan magnitudo 6,1 M. Hebatnya, untuk penanggulangan bencana, masyarakat lampau telah mengenal mitigasi.

Dalam proses wawancara dengan salah satau sejarawan, Heriza mengungkapkan Jogo Boyo bertugas memukul kentongan untuk peringatan bencana. “Lalu di Prasastri Pasrujambe yang menganggap bumi adalah ibu. Melalui ajaran moral, bumi memberi kita makan atau hidup. Terus ditulis juga ada orang yang bertugas membersihkan hutan (membersihkan sampah-red),” tutur Heriza.

Selain itu, ditemukan watu gong, yang sudah ada sejak zaman megalitik di Malang. Ini digunakan sebagai mitigasi bencana. Pondasi umpak batu merupakan hasil adaptasi masyarakat pada zaman dahulu untuk menghadapi ancaman gempa bumi.

Kesiapsiagaan masyarakat di zaman dulu juga dapat dilihat dari kelengkapan rambu, jalur evakuasi dan titik kumpul sebagai peningkatan kapasitas pengetahuan mengenai bencana.

Menurut penuturan Ketua Tim Jawa Dwipa, Trinirmalaningrum, hasil temuan ekspedisi Jawa Dwipa selama 20 hari tersebut diharapkan dapat mendorong pemerintah agar menjadi rekomendasi dan strategi kesiapsiagaan pengetahuan lokal dalam mitigasi bencana alam. (Izzatun Najibah/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button