UMKM Bangkit

Limun Kajawan dari Surabaya Kembali Teruskan Warisan Bangsa

Indrajatim.com – Surabaya: Sebelum minuman bersoda luar negeri merajalela di Indonesia, masyarakat Indonesia lebih dulu sudah mengenal dengan limun. Minuman berkarbonasi tersebut merupakan minuman soda pertama khas Indonesia.

Terbuat dari racikan asam sitrat, air sari buah, dan karbondioksida, maka tak heran jika nama lain dari limun adalah minuman berkarbonasi.

Bicara soal limun, rasanya tak bisa lepas dari Limun Oriental Cap Nyonya legendaris khas Pekalongan yang sudah berdiri sejak 1920. Sebelum bernama Limun Oriental, minuman ini bermerek Fabriek Lemonade en Mineral Water Njoo Giok Len.

Resep minuman ini diperoleh langsung dari orang-orang Belanda, sebab itu limun kerap disebut juga dengan banyu londo (air Belanda). Di zaman dulu limun menjadi minuman favorit kalangan priyayi Jawa. Menjadi simbol kemajuan di masa itu, ketika menjamu para tamu dengan limun tentu memiliki kebanggaan tersendiri.

Sempat eksis di tahun 1960 sampai 1990-an, kini keberadaannya sedikit susah dijumpai, kecuali di kota-kota tertentu saja misalnya Pekalongan, Yogyakarta, Semarang, atau Pasuruan. Karena beberapa perusahaan limun tergerus dengan minuman soda merek lain.

Ingin menghidupkan kembali eksistensi limun, Rizky M Pratama memproduksi limun dari Surabaya. Membawa resep turun temurun dari sang kakek dan nenek yang juga pernah memproduksi limun di tahun 1970 sampai 1990-an di daerah Tidar Surabaya. Sebelum akhirnya memutuskan untuk memproduksi limum sendiri, Rizky juga pernah bekerja di perusahaan limun selama empat tahun belakangan.

“Nenek saya dulu membuat minuman limun. Terus saya kerja juga di perusahaan limun selama empat tahun kemarin,” ujar Rizky.

Tak sendirian, dalam memulai proses produksi di masa pandemi, pria yang akrab disapa Eki ini mengajak seorang kawan bernama Aldo Herlambang. “Kajawan” nama brand yang tersemat dalam produk mereka.

“Memang mau bikin nama yang berbau Nusantara. Awalnya terpikirkan nama Kejawen, lalu kami mengambil istilah Kejawen dalam bahasa sansekerta jadi Kajawan terus bisa menjadi singkatan Kawan Jawa Nusantara,” ucap Aldo.

Memilih Elang Jawa sebagai logo untuk menggambarkan ciri khas Jawa Timur. Serta Ranu Kumbolo, menjadi tampilan utama dalam desain minuman Kajawan. Sebagai informasi, Ranu Kumbolo merupakan sebuah danau yang terletak di dalam Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.

Botol kaca gelap berukuran 330 ml dengan stiker tone warna yang cerah tampilan desain Kajawan menunjukkan akan kerinduan terhadap produk minuman legendaris yang pernah eksis di tahun 1960-an.

“Kita ingin memperlihatkan bagaimana cara biar vintage tapi masih modern jadi bisa dinikmati kawula muda sampai tua,” tutur Aldo.

Saat ini, Kajawan dapat dinikmati dengan varian empat rasa; Sarsaparilla, Coffe Cream, Curaçao Bleu, dan Ginger Ale.

“Kita ingin memperkenalkan produk ini dari Surabaya. Masa kota besar seperti Surabaya nggak ada produk minuman seperti ini,” ujar Aldo.

Tak hanya dapat ditemui di Kota Pahlawan saja, Kajawan telah didistribusikan di beberapa kota di Indonesia, di antaranya Bandung, Jakarta dan Yogyakarta.

Limun adalah citarasa dari kreasi dan inovasi leluhur bangsa. Terlepas resep awal yang didapatkan dari Belanda dalam proses penciptaan minuman soda. Sentuhan yang baik serta keberlanjutan akan kualitas produk, Limun dirasa akan menambah kekayaan, yang menjadi warisan leluhur Nusantara. (Izzatun Najibah)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button