Inovasi

Gagas Produk Camilan dari Daun Kelor dan Tulang Sotong

Indrajatim.com – Surabaya: Langkah-langkah berinovasi harus terus digaungkan di kalangan pendidikan tinggi. Termasuk para mahasiswanya. Tim mahasiswa dari Prodi Pengobat Tradisional, Fak Vokasi dan Prodi Akuakultur Fak Perikanan dan Kelautan, Universitas Airlangga (Unair) berhasil meraih predikat Best Innovation Product and Promotion di ajang lomba Business Model Canvas (BMC) Fooderation 2022.

Ajang tersebut digelar Universitas Padjajaran (Unpad) pada Rabu (23/11) lalu. Pada ajang kompetisi tingkat nasional tersebut, tim yang tergabung dengan nama “Moringa Sea Universitas Airlangga (UA) Team” itu beranggotakan Jihan Aura, Muhammad Syafiq Zuhdi dan Lalu Aldy Kurnia Aji.

Seperti termuat dalam press release Pusat Komunikasi dan Informasi Publik Unair, Rabu (30/11), Muhammad Syafiq Zuhdi menyampaikan bahwa ia menggagas ide kreatif untuk membuat produk camilan makanan, berbahan dasar daun kelor dan tulang sotong. Mereka mengatakan bahwa dua bahan tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai makanan yang bernutrisi dan masih belum banyak dimanfaatkan.

“Lautan dan alam kaya akan sumber daya, yang bisa dimaksimalkan untuk kebutuhan manusia. Namun, banyak yang masih belum dimanfaatkan secara optimal. Tulang sotong yang sebenarnya memiliki nutrisi protein dan kalsium, serta daun kelor yang merupakan superfood memiliki kandungan nutrisi, seperti protein, vitamin serta antioksidan,” kata Syafiq.

Di sisi lain, melihat pangsa pasar di Indonesia yang sangat tinggi akan konsumsi camilan, tim Moringa Sea Universitas Airlangga itu menginovasi sebuah produk camilan berbentuk keripik atau chips, berbahan dasar daun kelor dan tulang sotong. Produk itu diberi nama Fish Bone Moringa Kripss.

“Jadi produk kita berbentuk camilan keripik sehat yang dikemas dengan kemasan lebih biodegradable dan memiliki tiga varian rasa, yakni seaweed, spicy dan barbeque,” tambahnya.

Tak hanya itu, salah satu analisis kelebihan bisnis mereka adalah ikut mengampanyekan SDGs 12 Responsible Consumption and Production. Produk itu juga dapat menjadi jawaban atas permasalahan limbah tulang sotong yang selama ini kurang optimal dalam pengolahannya.

“Limbah tulang sotong biasanya sebatas dijadikan pakan burung. Jadi kami melihat adanya potensi untuk dikembangkan dan bisa lebih dimanfaatkan dari kandungan nutrisinya,” kata Lalu Aldy.

Setelah nelampaui berbagai tahapan, yang dimulai dari seleksi Business Model Canvas (BMC) Fooderation 2022, penjurian pitch deck, hingga presentasi di final, akhirnya produk camilan tersebut bisa meraih prestasi. Mereka berharap agar terus bisa berinovasi dan berkembang untuk ke depannya.

“Semoga kami bisa terus berinovasi, tidak mudah berpuas diri. Juga untuk terus berkembang dan bisa memberikan manfaat bagi orang lain,” ungkap Lalu.Aldy. (Humas Unair/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button