Panggung

“Toean Markoen”, Tanda Bahaya yang Harus Terus Dibunyikan

Indrajatim.com: Peradaban yang dibangun di atas pondasi kalkulatif untung-rugi secara materi bukanlah peradaban. Begitulah pesan pokok pertunjukan “Toean Markoen” yang dipentaskan Teater Api Indonesia di Gedung Kesenian Cak Durasim Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, pada Sabtu malam, 8 Oktober 2022.

Tema ini, tentu bukan tema baru. Akan tetapi mengingat nilai urgensinya, ia layak dihadirkan ulang, bahkan seyogyanya memang harus terus didengungkan sebagai upaya mendorong terjadinya transformasi dari situasi superfisial menuju kepada keadaan dimana kemajuan ilmu pengetahuan dan perkembangan teknologi, berjalan selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Dengan mengadaptasi naskah Die Hamletmaschine karya dramawan Jerman Heiner Müller, “Toean Markoen” benar-benar mendapatkan ruang kebebasan untuk mengeksplorasi tema tersebut. Hal ini memang memungkinkan mengingat Die Hamletmaschine─kaitannya dengan konsep post-modernisme yang lebih luas, termasuk kritik atas kapitalisme liberal─terbuka lebar untuk diinterpretasi ke dalam persoalan apapun, termasuk dunia industrial sebagaimana diketengahkan “Toean Markoen”.

Jika kita membaca sejarah dan mau jujur dengan fakta sejarah, dunia industrial senyatanya bukanlah dunia yang dibangun untuk kemaslahatan. Sejak awal revolusi industri dimulai pada 1760 hingga saat ini, sederet catatan kelam mulai dari perbudakan, urbanisasi yang mengakibatkan populasi penduduk kota meningkat, pencemaran lingkungan (baik udara, air dan tanah), peningkatan emisi gas rumah kaca dan pemanasan global, perubahan iklim, punahnya spesies baik tumbuhan dan binatang akibat eksploitasi, sampai masalah buruknya kesehatan yang berujung kematian, telah mewarnai sekian abad kehidupan kita.

Tapi apa lacur, konsep kapitalistik yang dirisalahkan Adam Smith dalam The Wealth of Nations (1776) dan menjadi ‘senjata pemusnah massal’ peradaban itu, tidak hanya diimani dan dipraktikkan para pemilik modal, tapi juga oleh negara. Akibatnya, nilai-nilai kemanusiaan dan warisan luhur masa lalu kita, semakin hari semakin terkisis, tak lagi tercermin dalam perilaku. Ekonomi kita, politik kita, kehidupan sosial kita, bahkan spiritualitas kita, berubah wujud menjadi ‘pasar’ yang riuh dengan transaksi.

Pentas yang berdurasi lebih kurang satu jam ini, diakhiri dengan klimaks yang menyesakkan. Bibit harapan yang ditanam penuh cinta dan diiringi lirih seloka alam yang dinyanyikan aktris Geg Komang itu pun akhirnya harus berakhir dengan kematian.

Akankah kegersangan jiwa atas hilangnya pohon kehidupan yang menaungi kita ini akan terus merundung kita sampai dunia ini berakhir? Wallahualam. (Fahmi Faqih)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button