Panggung

Teater Gapus Bawakan Babak 2 Naskah Lakon “C4”

Indrajatim.com – Sidoarjo: “Bukan saya. Bukan kami. Bukan dia. Bukan mereka. Bukan semuanya. Bukan saya. Bukan kami. Bukan dia. Bukan mereka. Bukan semuanya. Bukan saya. Bukan kami. Bukan dia. Bukan mereka. Bukan semuanya.”

Layaknya sebuah mantra, kalimat tersebut diucapkan berulang-ulang oleh sepasang aktor yang mengenakan pakaian serba hitam dan putih di awal pertunjukan. Dengan tatapan tajam dan fokus pada satu titik objek, kedua aktor tersebut tampak begitu menikmati eksplorasi setiap dinamika gerak tubuhnya.

Tak banyak alunan musik yang terdengar di sepanjang pentas fragmen babak 2 lakon C4 itu, hanya terdengar lantunan musik instrumental yang mengandalkan kekuatan kedua aktornya. Hebatnya, kedua orang tersebut berhasil mencuri perhatian 200 pasang mata penonton. Penampilannya memang bisa dibilang memukau saat di atas panggung.

Pertunjukan tersebut menjadi salah satu rangkaian dalam Pentas Keliling Teater Gapus Surabaya, menyambut FESSPA (Festival Seni Sastra Pertunjukan Avant-Garde) yang digelar di Gedung Dewan Kesenian Sidoarjo pada Selasa (29/11) malam. Sidoarjo menjadi titik kedua pentas keliling Teater Gapus Surabaya, dengan membawakan fragmen atau babak dua dari naskah lakon “C4”.

Di atas panggung, para aktor berupaya untuk berkomunikasi dengan penonton tentang “ledakan” kesadaran manusia, melalui kode dan dialog yang dihadirkan dalam pementasan. Kode tersebut juga ditampilkan dalam tata rias dan busana yang dikenakan para pemerannya, Regina Jawa dan Jagad Marsela.

Menurut Adnan Guntur, penulis naskah dan sutradara “C4”, pelepasan kesadaran manusia hadir di antara tata rias kedua aktor tersebut yang menyerupai goresan-goresan retak. “Tokoh yang diperankan oleh Regina Jawa N P sudah melalui tahap dan dalam kelahiran baru untuk membentuk dunianya, sedang tokoh yang diperankan Jaga Marsela merupakan yang belum selesai, sehingga masih tampak pengelupasannya,” tutur pria yang juga menjadi ketua Saung Teater itu.

Naskah “C4” yang menjadi karya ketiga Adnan Guntur ini bertemakan absurditas dan eksistensial, yakni mengisahkan sebuah keadaan manusia yang melepaskan dirinya dari kehidupan yang normatif. Tujuannya untuk mencapai konsep hidup yang stabil melalui sebuah penghancuran dan ledakan.

“C4 sendiri berarti kehadiran kemanusiaan yang telah memupuk kesendiriannya dalam memproses waktu hingga pada fase ledakan. Terlihat dalam dialog “Kita hidup dalam dunia yang terus menerus terbakar”,” ucapnya.

GAPUS: Foto bersama para awak Teater Gapus Surabaya di Dewan Kesenian Sidoarjo. (indrajatim.com/Canty).

Sementara itu, dalam agenda Pentas Keliling yang berkolaborasi dengan Dewan Kesenian Sidoarjo tersebut, juga turut menampilkan pembacaan puisi. Di antaranya oleh Jefry Dio Firmansyah dari Komite Teater Dewan Kesenian Sidoarjo dengan naskah “Mata Luka” karya Bunga Flamboyan,

Juga pembacaan puisi oleh Okadenta dari Teater Gapus Surabaya, yang membawakan puisi berbahasa Madura berjudul “E Delem Sokma” karya Abdul Rahman Oka, dan teatrikalisasi puisi oleh Iftidaamri yang berjudul “Lamaran” karya Totenk MT Rusmawan.

Sebagai informasi, Surabaya akan menjadi lokasi ketiga yang dipilih sebagai salah satu rangkaian Pentas Keliling dari Teater Gapus Surabaya. Agendanya akan tampil pada tanggal 4 Desember 2022 nanti. (Canty Nadya P/Azt)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button