Panggung

Garis Tipis Kewarasan Dan Kegilaan dalam Monolog “Terlambat Jeda” Jedink Alexander

Indrajatim.com | Surabaya – Pentas monolog “Terlambat Jeda: Titik Koma Berbicara” yang dilakonkan oleh aktor Jedink Alexander turut mewarnai panggung Parade Teater Jawa Timur 2022 yang berlangsung pada hari kedua, Sabtu malam (19/11) di Gedung Kesenian Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya. Pertunjukan ini menjadi satu – satunya penyaji dari luar Jawa Timur yang turut dalam gelaran Parade.

Dengan tata panggung yang memanfaatkan estetika audio visual secara digital, monolog yang disutradari oleh Bramanti F Nasution tersebut dipentaskan dengan kemasan kekinian. Artistik panggung tampak minimalis, hanya backdrop putih yang melintang menyesuaikan ukuran panggung, dua tirai berwarna senada di kanan dan kiri panggung juga dibentangkan vertikal, keduanya berfungsi untuk memantulkan tampilan video art yang berputar sejak awal hingga akhir pertunjukan.

Video yang dimainkan sepanjang pertunjukan tampak selaras dengan permainan peran Jedink Alexander, dimulai dari gambaran abstrak, objek kenampakan tata surya, hingga potret video Jedink Alexander yang juga sedang bermain monolog dengan iringan tampilan visual yang mendukung permainan aktor tersebut.

Naskah “Terlambat Jeda: Titik Koma Berbicara” yang ditulis oleh Mahmoud Elqadrie berbicara tentang sudut pandang normatif terhadap ketidakwarasan. Bahwa kegilaan bukanlah suatu aib melainkan sebuah keseimbangan dalam kehidupan sosial. Bahkan orang gila bisa terbebas dari penjara sosial yang mengekang.

“Intinya begini, melihat sebuah kegilaan ini sebetulnya menarik. Karena sebelumnya saat saya riset ke RSJ ini sepertinya mereka punya kemerdekaan yang luar biasa. Saya menganggap orang gila itu bukanlah aib, tetapi sebuah keseimbangan,” tutur Mahmoud.

Ia juga ingin membangun sebuah pemahaman jika orang gila juga mendorong perputaran ekonomi yang terlibat di dalamnya.

“Makanya dengan adanya orang sakit jiwa itu ada dokter sakit jiwa, perawat sakit jiwa, dan seluruh pihak terkait, dan ada ekonomi yang berjalan. Sehingga mohon orang gila itu dihormati sebagaimana orang normal. Idenya sederhana sebetulnya,” imbuhnya.

Dalam proses penggarapan monolog yang berlangsung selama sekitar 40 menit tersebut, Bramanti F. Nasution, sutradara naskah “Terlambat Jeda: Titik Koma Berbicara” merasa memiliki tantangan tersendiri karena ia berhasil merasuk ke dunia kegilaan yang diselami oleh Jedink Alexander sebagai aktor.

“Mengaplikasikan naskah yang penuh kegilaan itu sulit-sulit gampang, tetapi saya memilih untuk menjadi gila akhirnya menemukan sebuah kegilaan dalam diri aktor saya,” jelasnya.

Dalam setelan kaos bergaris hitam putih dan rambut gondrongnya, Jedink Alexander mengungkapkan terdapat sebuah kebermaknaan di dalam naskah yang dimainkannya tersebut, bahwa orang gila memiliki naluriah yang mulia serta tidak hidup dalam patron kegelimangan duniawi.

“Jadi ada pesan yang hendak disampaikan dalam naskah ini. Bahwa sebetulnya orang gila dan orang genius itu cuma dibatasi oleh satu garis tipis. Karena sebetulnya orang gila itu mulia, orang gila tidak mengkhianati hati nurani,” ucap pria yang juga menekuni dunia seni Lukis tersebut.

Secara keseluruhan pertunjukan ini tampak sebagai eksplorasi panggung teater yang mencoba memadukan cinematography dan panggung teater. Dimana sepanjang pertunjukan, visual art yang dipajang membentang keseluruh background panggung, menampilkan video yang juga didalamnya menampilkan monolog aktor yang sama. Sebuah pendekatan panggung teater atas kemajuan teknologi, khususnya digital visual. Namun pada akhirnya, segala bentuk kreatifitas konsep pemanggungan yang ditawarkan, akan teruji dari seberapa jauh publik memahami dan mampu menangkap gagasan sang penyaji. (Canty Nadya Putri)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button