Seni

Nanang Hape, Seni itu Belajar Menjadi Manusia

Indrajatim.com – Surabaya: Kesan apa adanya nampak kuat pada diri Nanang Hape, dalang kelahiran Ponorogo tahun 1975. Tanpa beskap seperti pakaian tradisional yang biasa dipakai dalang pada umumnya, hanya kemeja putih, sewek batik, dan udeng menutupi rambut yang dibiarkan terurai, semikianlah penampilan Nanang Hape setiap kali mendalang di atas panggung.

Sejak kecil, Nanang Hape memang tumbuh di keluarga seniman. Kecintaannya pada wayang mulai tumbuh saat dia melihat Pak Lek (paman) Kondo Suwarno mendalang.

“Dari kecil sudah mendalang, tapi tidak pernah berpikiran sampai jadi profesi. Ikut Pak Lek, kadang disuruh menggantikan beliau di part-part tertentu. Tapi itu pembelajaran konkrit menurutku, karena sudah dibenturkan langsung ke lapangan mendalang di depan masyarakat sejak kecil,” cerita Nanang.

Cinta kadang datang dari mana saja. Ungkapan itu kiranya yang bisa menggambarkan sosok Nanang dalam berproses di dunia pendalangan. Selepas SMA, faktor keterbatasan ekonomi membuat Nanang memutuskan untuk tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sehari-hari, dia menghabiskan waktu nongkrong di terminal dan menonton pertunjukan wayang.

Pak Pri, adalah orang pertama yang mengenalkan Nanang pada wayang. Nanang memanggilnya dengan nama Pak Pri, supir pick up antardesa tapi sangat disegani oleh anak-anak muda di terminal. Sosok Pak Pri yang pertama kali mengajaknya menonton pertunjukan wayang yang didalangi Ki Gondo Suyatno, dalang legendaris Indonesia. Sejak saat itu, tekad menjadi seorang dalang mulai tumbuh dalam diri seorang Nanang.

“Kumpulanku anak-anak terminal, preman-preman tapi mereka baik banget. Ada yang namanya Pak Tekong, preman yang ditakuti di terminal tapi dia lebih takut sama Pak Pri, supir pick up. Usia Pak Pri lebih tua dibanding Pak Tekong,”

“Waktu itu kami tidur habis minum tiba-tiba saya dibangunin Pak Pri ‘he ayo tangi-tangi, ayo nonton wayang’. Aku nggak bisa nolak, kami nonton wayang Ki Gondo Suyatno. Saya merasa lakon wayang yang dibawakan Pak Yatno seakan-akan menyindir, rasanya seperti dimarahin padahal aku nggak kenal. Pengalaman itu terus berlanjut dan membekas,” ucapnya dalam obrolan yang mulai menghangat.

Sejak menonton pendalangan Ki Gondo Suyatno, Nanang memutuskan untuk ‘berguru’ kepada sang dalang. Dari menjadi pembantu kesenian, Nanang kini berhasil menjadi seorang dalang. “Jadi setelah dibaca ulang, nggak ada yang sia-sia pembelajaran bisa datang dari siapa saja,” katanya dengan senyum sumringah.

Tak selang beberapa waktu kemudian, Nanang Hape memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di bangku perkuliahan ISI (Institut Seni Indonesia) Surakarta dengan studi pendalaman jurusan pendalangan hingga lulus pada tahun 2001.

Seiring berjalannya waktu, Nanang tak hanya jago mendalang, tapi dia juga mahir memainkan berbagai alat musik, menulis naskah, berteater, dan menari. Baginya, seni adalah belajar menjadi manusia.

“Muatan ndalang itu nggak jauh dari persoalan dari pendidikan. Bagaimana kita belajar jadi manusia, menjadi orang yang berguna. Keseniannya sendiri bernilai, ada kemanfaatannya. Kesenian di kehidupan masyarakat itu punya banyak peran selain hiburan. Kita bisa menjadikan kesenian itu sebagai media untuk menyampaikan sesuatu mungkin ide, gagasan, kegelisahan tertentu atau semacamnya,” katanya. (Izzatun Najibah)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button