Seni

Buggy dan Syamduro dengan Lukisan Kupu-Kupu serta Bunganya

Indrajatim.com | Surabaya – Dua Sahabat yang rambutnya sama-sama gondrong ini berkolaborasi. Buggy Budjianto dan Syamduro, kali pertama mengadakan pameran bersama.

Baik Buggy maupun Syamduro, keduanya memiliki ciri khas masing-masing dalam menggoreskan cat lukisnya. Buggy yang konsisten dengan lukisan kupu-kupunya selama 22 tahun, serta Syamduro yang nyaris tak bisa jauh dari lukisan bunganya.

“Awalnya saya mengajak Syam untuk ikut pameran ini untuk melengkapi kekurangan lukisan. Kami sering mengadakan pameran bersama dengan perupa-perupa lain, saya melihat Syam dengan lukisan bunganya yang bagus, saya kira pas (untuk berkolaborasi),” tutur Buggy Budjianto kepada indrajatim.com.

Romantis Ekspresif, tampak pada delapan lukisan bunga dan 15 lukisan kupu-kupu terpajang di ruangan sederhana, yang oleh kalangan Seniman Surabaya biasa disebut Galeri 66, yakni salah satu bagian ruangan di Gedung Merah Putih Balai Pemuda Surabaya, yang pintunya menghadap ke timur.

Selain persoalan rantai makanan, Keterkaitan tiap spesies untuk tumbuh bersama selalu ada sampai kapanpun, sama halnya dengan bunga dan kupu-kupu yang tak terpisahkan, pameran ini mereka beri tajuk “Indahnya Kebersamaan”.

“Dari dulu konsep pameran saya nggak pernah berubah intinya adalah kebersamaan. Saya ingin memberikan pesan melalui kupu-kupu yang hidup dengan kebersamaan. Untuk mengapresiasi ciptaan Tuhan, hidup itu harus penuh guyub rukun,” kata Buggy.

Filosofi keindahan kupu-kupu terus menginspirasi Buggy selama 22 tahun belakangan ini. Seniman lukis yang lahir pada tahun 1963 ini pernah menjajal sebagai musisi saat remaja. Sejak tahun 1984 mulai aktif melukis, awal 2000 memutuskan untuk konsisten dengan lukisan kupu-kupu yang kini telah menjadi karakternya.

Baginya, warna-warna dalam kupu-kupu itu memiliki komposisi menarik untuk dituangkan dalam bentuk lukisan. Dua sayap yang harus imbang melatihnya untuk jeli dalam menggoreskan kuasnya.

“Yang lebih spesifik bukan kupu-kupunya, tapi proses perjalanannya. Dari ulat yang menjijikkan menjadi indah, meditasinya menjadi kepompong taruhannya nyawa, hidupnya tidak lama ketika mati menjadi pajangan dekorasi, kepakan sayapnya yang selalu menghadap ke atas melambangkan optimisme,” terang Buggy.

Kedamaian yang dia dapat dari filosofi kupu-kupu, Buggy tanamkan dalam hidup maupun setiap karyanya.

“Saya ingin mengapreasiasi alam semesta. Dalam berkarya harus sesuai dengan jiwa kita. Makanya, dari kecil saya nggak pernah berkelahi, nggak pernah minum, berjudi, maupun main perempuan. Saya nggak suka kekerasan,” jelasnya.

Sama halnya dengan Buggy, Syamduro juga menjadikan bunga sebagai ciri khas lukisannya.

Syamduro (indrajatim.com/Muni)

“Karena bunga itu enak dipandang dan bisa menjadi terapi. Identik dengan romantisme, bunga itu kalau digali banyak (filosofinya). Melihat gambarnya saya, sudah membuat orang berimajinasi akan harumnya dan kecantikannya,” ujarnya.

Sebagai seniman lukis, dia menuturkan bahwa melukis atau menggambar merupakan tuntutan batin yang akan terus dia kerjakan.

“Walau nggak disuruh nggambar ya tetap menggambar,” papar Syam. Pria yang kini berusia 55 tahun ini juga mengajar melukis untuk anak-anak TK di beberapa sekolah di Madura dan Surabaya. Alih-alih sebagai pengajar, dirinya justru mengaku banyak belajar perihal goresan gambar dari anak-anak didiknya.

“Anak-anak itu, mereka polos. Gambarnya cenderung tidak beraturan tapi semua karya mereka jujur dari diri mereka sendiri. Justru saya banyak menyontek garis-garis mereka ketika menggambar,” pungkasnya. (Izzatun Najibah)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button