Seni

Berkampanye Melalui Film Dokumenter

Indrajatim.com – Surabaya: Menyampaikan pesan melalui film menunjukkan bahwa film dokumenter bukan hanya difungsikan sebagai hiburan semata tetapi dapat menjadi sarana untuk berkampanye.

Pembahasan tersebut tertuang dalam diskusi “Efektivas Film Dokumenter Sebagai Media Kampanye” di Ruang Soetandyo FISIP Universitas Negeri Airlangga (Unair) Surabaya pada Rabu (23/11) lalu.

“Kampanye tidak hanya memiliki spektrum politik tetapi juga sosial, budaya ekonomi atau sebagainya,” kata IGAK Satrya Wibawa, akademisi Unair ada Rabu (23/11).

Menurut IGAK, film dokumenter menggunakan pendekatan realistis berdasarkan riset untuk menyampaikan fakta, data, dan informasi dari beragam perspektif. Film dokumenter juga bersumber dan memiliki fokus pada satu isu atau tema besar.

“Film dokumenter dapat menjadi media kampanye. Tidak hanya sebatas distribusi informasi,” ungkapanya IGAK.

Pria yang kini juga menjabat sebagai Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Singapura tersebut juga menuturkan bahwa efektivitas film dokumenter sebagai media kampanye harus memperhatikan segmentasi audien.

“Film dokumenter harus bisa melihat siapa segmen yang dituju untuk menyesuaikan gaya visual dan naratifnya. Akan efektif kalau memahami siapa audien lalu apa isu yang dituju,” tuturnya.

Sementara itu, M. Andi Fikri, anggota Asosiasi Dokumenteris Nusantara Surabaya menuturkan, film dokumenter digunakan untuk merepresentasikan realitas dan menampilkan fakta yang ada dalam kehidupan. Dalam pembuatannya, film dokumenter dibuat dengan skema terstruktur sesusai dengan visi produksi.

“Film dokumenter menampilkan cerita yang seharusnya dan sebelumnya sudah ada. Jadi kita lebih menceritakan kembali atau merekonstruksi suatu kejadian dan situasi melalui film,” paparnya.

Akademisi bidang Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tersebut juga mengatakan bahwa film dokumenter dapat menjadi media penyampaian aspirasi atau kritik terhadap suatu isu dengan menyalurkan informasi yang lebih mendalam.

“Film dokumenter dijadikan sebagai kritik kehidupan sosial misalnya kesenjangan. Bicara soal kemiskinan, miskin itu ada beberapa taraf. Kalau di film, kita harus menjelaskan lebih detail. Ada miskin konteks agama, sosial, atau politik,” terangnya.

Selain sebagai penyampaian aspirasi dan kritik, menurutnya film dokumenter juga bisa bertujuan untuk berkampanye.

“Efektivitas film dokumenter untuk digunakan sebagai media kampanye itu bisa mengubah perilaku masyarakat melalui wacana tentang fenomena sosial,” tuturnya.

Diskusi dengan tema besar “Menghadang Krisis Pangan dengan Budaya Nusantara” ini menjadi bagian dari Lokarya yang diselenggarakan oleh Universitas 45 Surabaya Program Pendidikan TV dan Film dan bekerja sama dengan Universitas Airlangga Surabaya.

Produksi sebuah film tentu saja tidak dapat lepas dari dasarnya, yakni penciptaan karya seni yang notabene pendekatan estetik menjadi prioritas. Namun sebagai media kolaborasi, pada akhirnya proses penciptaan karya film, termasuk film dokumenter diharapkan mampu memberikan ruang kolaborasi, termasuk menjadi media kampanye. (Izzatun Najibah)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button