Sejarah

Sufi Satir Nasruddin Hoja (1)

Indrajatim.com – Suatu waktu, Nasruddin melakukan perjalanan bersama dua temannya, seorang pastor dan seorang yogi. Di hari kesekian, bekal makanan mereka tinggal sepotong roti – masing-masing merasa berhak atas roti itu. Dengan sedikit perdebatan mereka sepakat memberikan roti kepada siapapun dari mereka yang bermimpi paling religius.

Malam tiba, mereka pun pergi tidur.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali pastor bercerita, “Aku bermimpi melihat Yesus Kristus membuat tanda salib. Itu adalah pertanda yang sangat religius.”

“Ya, itu mimpi istimewa. Tapi mimpiku tak kalah hebat dengan mimpimu, tuan pastor. Aku bermimpi melakukan perjalanan menuju nirwana dan menemukan tempat yang paling damai dan bahagia,” kata yogi tak mau kalah.

Sambil mengelus perut Nasruddin menimpali sang pastor dan yogi seraya berkata “Aku bermimpi berjalan di tengah gurun dalam keadaan lapar. Tiba-tiba tampak bayangan Nabi Khidir mendekatiku dan berkata, “Jika kau lapar, Nasruddin, makanlah roti itu.” Aku langsung bangun dan memakan roti itu.”

Berita Lainnya

Mendengar cerita Nasruddin, pastor dan yogi hanya bisa melongo …

Tak terasa, tahun demi tahun berlalu, Nasruddin bertambah tua. Akan tetapi setiap ditanya berapa umurnya, Nasruddin selalu menjawab; 40 tahun. Orang-orang tentu saja jengkel dengan jawaban Nasruddin. Ketika sebagian dari mereka protes kenapa umurnya tak lagi bertambah, dengan santai Nasruddin menjawab, “Aku kan konsisten.”

Oleh banyak kalangan Nasruddin dipandang sebagai filsuf sekaligus orang bijak yang mengajarkan hikmah dan kebijaksanaan lewat humor dan anekdot. Cerdas, jenaka, sekaligus membingungkan.

Berbagai suku bangsa seperti Turki, Afganistan, Iran dan Uzbek mengklaim Nasruddin berasal dari mereka dan mengeja namanya dengan berbagai variasi; Nasrudeen, Nasrudin, Nasruddin, Nasr ud-Din, Nasredin, Naseeruddin, Nasr Eddin, Nastradhin, Nasreddine, Nastratin, Nusrettin, Nasrettin, Nostradin, Nastradin, dan Nazaruddin.

Begitupun dengan gelarnya. Terkadang disebut “Hoxha,” “Kwaje,” “Hodja,” “Hoja,” “Hojja,” “Hodscha,” “Hodža,” “Hoca,” “Hogea,” “Mullah,” “Mulla,” “Mula,” “Molla,” “Efendi,” “Afandi,” “Ependi,” atau “Haji.”

Di negara-negara berbahasa Arab Nasruddin dikenal sebagai “Juha,” “Djoha,” “Djuha,” “Dschuha,” “Giufa,” “Chotzas,” Goha.”

Untuk Juha, sebenarnya adalah tokoh berbeda yang berasal dari literatur Arabik abad ke-9 Masehi yang populer di abad ke-11. Kisah keduanya menjadi tercampur pada abad ke-19 saat kumpulan naskah cerita diterjemahkan dari Bahasa Arab ke Turki dan Persia. Yang juga sering disalahpahami, Nasruddin sering disamakan dengan Al-Hasan bin Hani al-Hakami atau dikenal dengan Abu Nuwas/Nawas, penyair yang terkenal dengan karyanya yang homoerotik. (Fahmi Faqih)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button