Sejarah

Mengenang Kembali Pemilu 1955

Indrajatim.com – 29 September 1955 adalah titimangsa dimana untuk pertama kalinya Indonesia menyelenggarakan pemilu. Yang menarik, meski secara ekonomi ruang fiskal kita sangat terbatas, ditambah adanya kekacauan politik karena di beberapa daerah terjadi pemberontakan bersenjata, – terutama pemberontakan DI/TII – pemilu berjalan lancar bahkan disebut-sebut sebagai pemilu paling demokratis dalam sejarah pemilu Indonesia.

Pembatasan politik, nyaris tak ada. Parpol, organisasi masyarakat bahkan perorangan, dipersilakan menjadi peserta pemilu. Tak hanya itu, spektrum ideologi juga luas. Mulai agama, nasionalis, komunisme, sampai Trotskyisme, semua mendapat tempat.

Begitupun dengan partai lokal seperti Partai Manguni di Sulawesi Utara dan Partai Kedaulatan Rakyat di Sulawesi Selatan, boleh ikut pemilu. Saking berwarnanya pemilu 1955, ada peserta bernama Sibual-Buali yang konon merupakan perusahaan angkutan umum di Tapanuli.

Semua warga negara yang berusia 18 tahun atau sudah menikah, memiliki hak pilih. Bahkan pegawai negeri, tentara (Angkatan Perang Republik Indonesia/APRI) dan polisi, juga berhak memilih.

Berapakah besaran dana yang dihabiskan untuk pemilu 1955?

479.891.729 rupiah.

Anggaran sebesar itu dipakai untuk mencetak surat suara, sosialisasi pemilu, pembuatan bilik pencoblosan, biaya distribusi surat suara ke daerah, dan membayar honor panitia penyelenggara.

Adapun dana yang dikeluarkan oleh kontestan, baik perorangan maupun partai, belum ada data mengenai itu. Akan tetapi jamak diketahui, secara umum partai mengandalkan iuran anggotanya.

Pemilu 1955 diselenggarakan dua tahap. Pertama, 29 September untuk pemilihan anggota DPR, dan yang kedua 15 Desember untuk memilih anggota konstituante.

Pemilu anggota DPR diikuti 36 partai, 36 organisasi massa, dan 48 calon perorangan. Mereka memperebutkan 260 kursi DPR, 520 kursi konstituante.

Soal disiplin juga patut dijadikan contoh. Dari pejabat negara, ketua partai politik, sampai masyarakat biasa, semua antre dengan tertib.

Presiden Sukarno dan wakil presiden Mohammad Hatta, antre di tengah-tengah rakyat biasa di TPS Kementerian Penerangan Jalan Merdeka Barat nomor 9 Jakarta. Begitu pun pimpinan partai politik seperti Ali Sastroamidjojo (PNI), M Natsir (Masyumi), dan Sjahrir (PSI), juga mengantre di TPS.

Pemilu 1955 mencatat lima besar pemenang; 1. PNI (8,4 juta suara), 2. Masyumi (7,9 juta suara), 3. NU (6,9 juta suara), 4. PKI (6,1 juta suara), dan 5. PSII (1,09 juta suara). (Fahmi Faqih)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button