Sejarah

Gowok

Indrajatim.com – Sekalipun oleh para pengamat dikatakan bahwa pendidikan seks yang dikenalkan sejak dalam lingkup keluarga sedikit banyak dapat meminimalisir kekerasan seksual, secara umum pendidikan seks masih dianggap tabu oleh masyarakat Indonesia. Namun, jika kita kembali ke abad-abad lampau, di Jawa, pendidikan seks dalam lingkup keluarga itu, pernah ada bahkan menjadi tradisi.

Tradisi ini berawal dari adanya kekhawatiran orang tua yang, jika kelak anak lelaki mereka berkeluarga tanpa memiliki pengalaman seksual, kehidupan rumah tangganya akan tidak bahagia. Kekhawatiran itulah yang mendorong lahirnya gagasan agar anak lelaki yang hendak menikah, terlebih dulu dididik oleh perempuan dewasa yang berprofesi sebagai gowok untuk dikenalkan pada kehidupan seksual.

Meski terbilang vulgar―karena pendidikan seksual itu tidak hanya menyangkut teori tapi juga praktik―anak lelaki yang dididik seorang gowok tidak sekadar diberi pengetahuan seks agar jago di atas ranjang. Mereka juga dibekali dengan pengetahuan menyangkut semua hal yang berhubungan dengan kehidupan berumah tangga agar benar-benar menjadi lelanangin jagad seutuhnya.

Dalam catatan R. Prawoto, “Huwelijksgebruiken en met het Huwelijk Verwants Verhouding in Oude Ost-Banjoemas”, di majalah Tijdschrift voor Indische Taal- , Land- en Volkenkunde LXXI tahun 1931 disebutkan, bahwa seorang gowok memiliki tarif tertentu yang bervariasi antara f.0,25 dan f.0,30 per hari. Orangtua yang menitipkan anak lelakinya kepada gowok, biasanya berasal dari keluarga terpandang dan kaya. Sehingga selain mendapat upah berupa uang, gowok juga mendapat tambahan beras, kelapa, dan lain-lain sebagai ungkapan terima kasih.

Selama membimbing pemuda untuk bersiap menjadi seorang suami, gowok biasanya bertindak selayaknya seorang istri sekaligus menantu. “Ia harus memasak makanan untuk pemuda itu dan keluarganya, menyediakan kayu bakar, membawa pemuda itu ke tanah tempat ia bekerja, membawakan makanan, mengurus pakaian dan harta miliknya, menerima kunjungan untuknya, dll.,” tulis Prawoto.

Berita Lainnya

Pembahasan mengenai gowok dan tradisi gowokan juga dapat ditelusuri dari karya sastra, salah satunya Nyai Gowok, novel karangan Budi Sardjono. Dalam novel tersebut, Budi mencoba merunut sejarah kehadiran gowok di pulau Jawa. Ia menyebut Goo Wook Niang sebagai perempuan yang pertama kali memperkenalkan cara mendidik anak lelaki yang beranjak dewasa dengan diajak tinggal di rumahnya selama beberapa hari. Menurut Budi, kegiatan itu telah dilakukan Goo Wook Niang sejak masih tinggal di Tiongkok. “Dan, hanya anak-anak lelaki dari kalangan istana yang ia didik supaya kelak jadi lelaki sejati, mengenal betul setiap inci dari tubuh perempuan, dan akhirnya bisa membahagiakan perempuan yang dijadikan pasangan hidupnya,” tulis Budi.

Jauh sebelum Budi, seorang pengarang keturunan Cina bernama Liem Khing Hoo telah menulis roman berjudul Gowok di tahun 1936. Dalam roman tersebut, Liem Khing Hoo, yang memakai nama pena Romano, menceritakan kisah Soemanda, putra seorang kepala desa yang telah menyelesaikan pendidikan lanjutannya di sekolah Belanda dan berusaha menghindari tradisi gowokan yang ia anggap tak sesuai dengan moralnya. Akan tetapi sang ayah, diam-diam rupanya mendatangkan seorang gowok bernama Soembangsih. Pembicaraan antara Soemanda dan Soembangsih tentang pendidikan rumah tangga yang dipandang Soemanda terbelakang telah mengubah pemikirannya. Sebagai seorang gowok yang tentu saja cerdas, Soembangsih dapat merubah pandangan Soemanda. Selanjutnya, Soemanda tak hanya setuju menimba ilmu kepada Soembangsih, tetapi juga jatuh cinta kepada sang gowok.

Menurut penulis cum peneliti asal Perancis, Claudine Salmon, dalam Sastra Indonesia Awal, roman karangan Liem itu mendapat banyak tanggapan dari kalangan pers setelah diterbitkan, karena tak sedikit orang yang menganggap bahwa tradisi gowokan telah lama punah. (Fahmi Faqih)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button