logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Roehana Koeddoes, Pahlawan Nasional, Wartawati Pertama Indonesia

  • 10-11-2022

Indrajatim.com – Surabaya: Terlahir dengan nama Siti Roehana, dia merupakan keturunan keluarga terpandang Datuk Dinagari dari Puak Kato. Ayahnya, Moehammad Rasjad Maharaja Soetan adalah seorang jaksa pada masa pemerintahan kolonial Belanda, dan ibunya bernama Kiam. 

Koto Gadang, 20 Desember 1884 lahirlah Roehana. Seorang sulung dari 26 bersaudara. Ayahnya memiliki enam istri. Tak hanya dia, saudara-saudaranya juga merupakan tokoh besar dalam sejarah Indonesia. Sebut saja, Chairil Anwar, Soetan Sjahrir, dan H. Agus Salim. 

Ayahnya, Rasjad yang merupakan pelopor Sekolah Rakyat untuk pribumi di Koto Gadang sangat mementingkan aspek pendidikan untuk anak-anaknya. Jika anak-anak seusianya asyik bermain, Roehana kecil lebih memilih menghabiskan waktu untuk membaca buku, koran, dan majalah. Dia melahap bacaan yang berbau politik, sastra, dan hukum.

Walau tak pernah mengenyam pendidikan di sekolah formal, Roehana mahir dalam berbahasa Arab, Belanda dan Melayu. Dia juga mahir dalam menulis, kecerdasannya sudah menonjol sedari dia kecil. 

Ketika mulai tumbuh menjadi remaja, Roehana sengaja membaca buku keras-keras di halaman rumah. Para tetangga yang keheranan akhirnya penasaran ikut membaca. Sejak saat itu halaman rumah semakin ramai, Roehana menyulap teras menjadi ruang belajar sederhana.   

1908, di usia 24 tahun, Roehana menikah dengan seorang notaris publik, Abdul Koeddoes. Dari situlah Siti Roehana dikenal sebagai Roehana Koeddoes. Suaminya sangat mendukung perjuangan Roehana. 

Pada tahun yang sama, tepatnya di Batavia terbitlah koran perempuan atas insiatif Tirto Adhie Soerjo. Beberapa kali tulisan Roehana diterbitkan, di sana dia merupakan kontributor.

Tahun 1911 Roehana mendirikan industri rumahan Karadjinan Amai Satia (KAS). Di tempat itu Para perempuan belajar membaca, menulis, berhitung, pendidikan rohani, adat istiadat, mengurus rumah tangga, mengasuh anak, menyulam, menjahit, dan sebagainya.

Di sela-sela mengajar, Roehana tetap aktif menulis. Setelah berdiskusi dengan ayah dan suaminya, Roehana mengirim surat kepada Soetan Maharadja, pimpinan redaksi Oetoesan Malajoe untuk dibuatkan koran khusus perempuan. Dia akan mengisi halaman demi halaman nantinya. Kesepakatan dibuat, dan terbitkan Soenting Melajoe. Sejak 1912 hingga 1920, Roehana menjabat sebagai pemimpin redaksi.  

Gagasan dan pemikirannya banyak yang terkait perihal politik, kebangkitan perempuan Indonesia, semua ia tuangkan dalam tulisan. Tak hanya di Soenting Melajoe, karya-karyanya banyak diterbitkan di surat kabar Saudara Hindia, Perempuan Bergerak, Radio-radio, Cahaya Sumatera, Suara Koto Gadang, Mojopahit, Guntur Bergerak dan Fajar Asia. 

Kemudian tahun1920 Roehana dan suaminya pindha ke Kota Medan dan mengajar di sekolah Dharma Putra Pusat. Tapi dia juga masih terus aktif mengirimkan tulisannya ke surat kabar Perempoean Bergerak. 

Ketika usianya 88 tahun, kala itu 17 Agustus 1972 saat Hari Perayaan Kemerdekaan Indonesia, Roehana menghembuskan napas terakhirnya. Kemudian dia dimakamkan di pemakaman umum Karet, Jakarta. 

Dua tahun setelahnya, tepatnya 25 Agustus 1979, pemerintah Sumatera Barat memberikan penghargaan kepadanya sebagai pelopor wartawan perempuan. Pada peringatan Hari Pers Nasional ke 3, tahun 1987 di masa pemerintahan Orde Baru melalui Menteri Penerangan Harmoko, menganugerahinya sebagai “Perintis Pers Indonesia”. 

Melalui Surat Menteri Sosial RI Nomor 23/MS/A/09/2019, pemerintah Indonesia menetapkan Roehanna Koeddoes menjadi Pahlawan Nasional asal Kabupaten Agam atas jasanya memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui karya jurnalistik. (Izzatun Najibah) 

Baca Juga : Kurangnya Aksesibilitas Tuli di Ruang Publik


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close