logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Nama Jalan menjadi Simbol Kota

  • 02-11-2022

Indrajatim.com – Surabaya: Jalan Ahmad Yani, Jalan Joyoboyo, Jalan Menganti, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Ciliwung, Jalan Sulawesi, Jalan Biliton, dan masih banyak lagi nama-nama jalan yang terdapat di Surabaya. Penamaan jalan tidak hanya sebagai penanda atau kata sematan saja tetapi juga menjadi simbol dari sebuah kota.

“Salah satu sejarawan yang terkenal di Singapura Brenda Youh, mengatakan proses penamaan jalan tidak cuma berhubungan pemaknaan suatu tempat. Tapi juga menjadi refleksi, pertentangan kontrol politik di dalam kota itu. Jadi dia (nama jalan) menjadi pertarungan antarberbagai kelompok,” kata Sarkawi B Husain, akademisi sejarah Universitas Airlangga Surabaya.

Menurut ilmuwan Singapura, Brenda Youh, penamaan jalan di suatu kota tidak hanya sekedar memberikan makna tetapi juga mengingatkan tentang pertentangan kontrol politik antarkelompok.

Baca Juga : Mangkuk Ayam Jago Merah, Mangkuk Legendaris

“Nama jalan itu tidak hanya sekedar nama saja, tapi ada sesuatu (sejarah) di baliknya. Siapa yang menguasai kota itu kelihatan dari simbol kotanya. Salah satu simbolnya adalah nama jalan,” tambah Sarkawi.

Bersandar pada Ayat 1 Pasal 5 Bab IV Peraturan Daerah Kota Surabaya No 7 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pemberian Nama Jalan dan Sarana Umum, pemberian nama kalan memiliki penggolongan yang didasarkan dari nama pahlawan, nama tokoh masyarakat yang meninggal dunia, nama peristiwa bersejarah, nama flora dan fauna, nama geografis; nama-nama yang mencerminkan semangat nasionalisme, kebudayaan, atau nilai tematik yang tidak bertentangan dengan norma agama, kesusilaan dan kepentingan umum.

Sarkawi menjelaskan, pada tahun 1886 konsentrasi penduduk di Surabaya diikuti oleh penamaan jalan di daerah tersebut. “Konsentrasi penduduk di masa itu diikuti oleh penamaan jalannya,” jelasnya.

Di masa itu, pemukiman warga terbagi menjadi empat golongan, bangsa Eropa, bangsa Arab, bangsa Tionghoa dan bangsa pribumi. Dimana, Jembatan merah itu bukan sekedar tempat penyebrangan tetapi juga sebagai segregasi.

Sebelah Barat Jembatan Merah, umumnya nama-nama jalan berasal dari Belanda (Heerenstraat, Willemstraat, Daendelstraat, Heutszstraat, dan Altingstraat). Sebelah Timur Jembatan Merah pemukiman Tionghoa, memiliki nama-nama jalan yang berhubungan dengan etnis Tionghoa, Chinesevorstraat, Tepekongstraat, dan Tienstraat.

“Pada 1940, dari 113 nama jalan yang teridentifikasi, ternyata nama jalan berbahasa Belanda itu tidak banyak. Sebagaian besar berbahasa lokal seperti Dinojo, Donorejo, Djagalan, Gembong, Kaliasin, dan sebagainya,” ujar akademi yang berfokus pada ilmu sejarah tersebut.

Namun, setelah Soekarno dan Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia pada 1945, banyak nama-nama jalan di Surabaya diganti menjadi nama-nama yang mengandung semangat nasionalisme, seperti nama pahlawan.

“Uniknya adalah, ada nama jalan yang tokohnya dibalik. Seperti di Jalan Teuku Umar, itu dulu namanya Van Heutzstraat. Dia adalah musunya Teuku Umar waktu Perang Aceh,” ujar pengarang buku Negara di Tengah Kota Politik: Representasi dan Simbolisme Perkotaan Surabaya 1930-1960 tersebut.

Pada tahun 1925, dari 702 nama jalan di Surabaya, 13 di antaranya merupakan berbahasa Tionghoa. Di masa itu, masyarakat menuntut agar ada perubahan nama jalan menjadi nama-nama Wali Songo. Namun, oleh pemerintah permintaan tersebut tidak disepakati hingga pada akhirnya diganti menjadi nama-nama komoditi di Indonesia seperti Jalan Karet, Jalan Kopi, dan Jalan Cokelat.

Seiring berjalannya waktu, nama-nama jalan di Surabaya terus mengalami perubahan mulai dari tahun 1960, 1970, 1990, hingga 2000.

Penamaan jalan menjadi sebuah identitas dari seseorang, tempat, dan bangunan di suatu daerah. Nama jalan difungsikan oleh masyarakat untuk memudahkan suatu jalan di dalam peta kota. (Izzatun Najibah)

Baca Juga : Terbentuknya Provinsi Jawa Timur


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close