logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Mengenal Dan Menapaki Situs Siti Inggil, Tempat Perabuan dan Pertapaan Raden Wijaya

  • 22-11-2022

Indrajatim.com – Mojokerto: Sejarah berdirinya Bangsa Indonesia, tak pernah lepas dari banyaknya kerajaan pada masa lampau, termasuk keberadaan Majapahit sebagai Kerajaan besar dalam sejarah Nusantara. Mengapa Majapahit menjadi besar, dan siapa tokoh yang mampu membawa kebesarannya? Maka jawabannya adalah pondasi yang diciptakan oleh pendiri sekagus Raja pertama, yakni yang Raden Wijaya. Sebagai Raja pertama, beliau merupakan salah satu sosok yang berhasil membangun dan meletakan pondasi besar dalam tumbuhnya kerajaan Majapahit di Nusantara.

Di Dusun Kedungwulan, Desa Bejijong, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto terdapat satu situs bernama Siti Inggil. Situs ini ini diyakini sebagai petilasan dari Raden Wijaya, lokasi pertama dia membangun Kerajaan Majapahit serta tempat peristirahatan terakhirnya.

Siti Inggil, dalam bahasa Jawa, Siti berarti tanah dan Inggil adalah tinggi. Secara harfiah, Siti Inggil merupakan bangunan yang tertelak di atas tanah dengan posisi lebih tinggi.

Hingga sekarang, Situs Situ Inggil menjadi salah satu tempat bersejarah yang sering dikunjungi, Setelah masuk dari pintu gapura, pengunjung akan merasakan suasana sejuk. Satu pohon besar dengan cabang dan daun yang lebat seakan-akan menjadi atap pelindung dari panas terik matahari.

Baca Juga : James Barnor, Perintis Perubahan Fotografi Ghana

Terdapat bangunan utama dibalut kain merah putih, berbentuk pagar persegi yang kira-kira berukuran 20x20 meter berada pada sisi kanan. Di dalamnya, terdapat lima nisan di antaranya Raden Wijaya, istri Gayatri, dua selir Dara Petak dan Dara Jingga serta Abdi Kinasih.

Juru kunci Siti Inggil, Mohammad As’ad mengatakan, makam ini bukanlah tempat jenazah Raden Wijaya melainkan hanya sebagian abu dari jenazahnya yang diperabukan. Jadi, makam hanyalah sebutan. Dalam kepercayaan Hindu, memang tidak mengubur jenazah tetapi mengenal istilah mukso atau diperabukan. Abu tersebut disimpan di candi atau dihanyutkan ke laut. Maka jangan heran, bila ada juga tempat perabuan Raden Wijaya di Candi Simping Blitar. 

Konon, Situs Siti Inggil juga menjadi tempat Raden Wijaya melakukan pertapaan meminta petunjuk untuk memberi putusan masalah kerajaan. Sehingga, banyak kalangan pejabat Republik Indonesia yang sudah pernah berkunjung ke situs ini. Mulai dari Presiden Soekarno, Soeharo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Gus Dur. Mereka berziarah selain mendoakan mungkin memiliki harapan agar bisa mendapat tuah atau berkah dari Raden Wijaya yang telah berhasil menyatukan sebagian besar wilayah Nusantara.

Di kompleks Siti Inggil, tak hanya tedapat nisan Raden Wijaya. Tetapi ada beberapa bangunan yang berdiri di luar makam. Misalnya sumur tua yang berada di sisi selatan bangunan utama. Sumur itu juga dikenal sebagai sumur suci. Berupa cekungan dengan kedalaman kurang dari satu meter, sumur yang tidak pernah mengering tersebut diyakini memiliki khasiat menyembuhkan penyakit.

Makam Sapu Jagad dan Sapu Angin (indrajatim.com/Izza)

Sisi utara bangunan utama, ada dua makam yang bertuliskan Sapu Jagad dan Sapu Angin. Kedunya bukanlah nama orang, melainkan sebuah gelar dari Kerajaan Majapahit kepada seseorang yang memiliki ilmu tinggi. Sapu Jagad dan Sapu Angin adalah dua sosok prajurit yang setia mendampingi Raden Wijaya.

Bangunan Sanggar Pemujaan (indrajatim.com/Izza)

Selain itu, sebelah selatan makam Raden Wijaya, ada bangunan cukup besar yang kira-kira memiliki tinggi sekitar 3 x 3 meter dari permukaan tanah. Sanggar Pemujaan, bangunan yang berupa kubus bertingkat itu dulunya dipercaya sebagai tempat Raden Wijaya melakukan semedi. Tempat dimana pertama kali mendapat Wahyu Keprabon.

Meski Situs Siti Inggil tidak masuk dalam bangunan cagar budaya, tempat ini memiliki nilai spiritual khusus di kalangan peziarah. Siti Inggil yang menjadi tempat pertapaan Raden Wijaya meminta petunjuk untuk menjalankan pemerintahan, membuktikan bahwa seorang pemimpin juga melibatkan Tuhan dalam mencari jalan terbaik demi kehidupan bersama yang lebih baik. (Izzatun Najibah)

Baca Juga : Guernica, Sebuah Perlawanan atas Fasisme


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close