logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Ketika Kaum Yahudi Berada di Bawah Perlindungan Islam

  • 19-11-2022

Indrajatim.com: Sejak lama, beribu tahun lalu, komunitas Yahudi telah berdiam di Timur Tengah dan Afrika Utara dan diperintah berbagai imperium; Babilonia, Persia, Kartago, Yunani, Romawi dan Romawi Timur. Namun, di antara sekian imperium itu, baru di abad ke-7 ketika Islam mulai berkuasa, mereka menjadi makmur ― tak ada pembatasan yang mencegah aktivitas sosial dan komersial mereka. Watak dasar Islam berupa keterbukaan dan toleransi sebagaimana di tegaskan Al-Quran dalam diktum "Tak ada paksaan dalam agama (Islam)", memungkinkan komunitas Yahudi dan kelompok keagamaan pra-Islam lainnya tetap memiliki hak dan perlindungan tertentu sebagai "ahli kitab". Karenanya sejarah pun mencatat ekspansi Islam sebagai ekspansi tanpa invasi dan penjajahan.

Di banyak kesultanan tak jarang dijumpai orang-orang Yahudi atau Kristen menduduki jabatan penting dalam birokrasi. Penguasa-penguasa Muslim tidak menilai mereka berdasarkan keyakinan, tetapi semata karena kecakapan intelektual dan politik yang mereka miliki. Wizurai dari Baghdad misalnya, mengamanahkan kotanya kepada pengurus bank Yahudi. Pelabuhan Siraf bahkan mempunyai gubernur Yahudi. Dalam Promesses de l'Islam, Roger Garaudy mencontohkan seorang santo bernama Jean Damascene yang menjabat kepala keuangan di zaman Kekhilafahan Bani Umayyah di Damaskus.

Baca Juga : Sufi Satir Nasruddin Hoja (1)

Begitupun ketika Baitul Hikmah didirikan Khalifah al-Makmun dari Bani Abbasiyah. Al-Makmun menghimpun ilmuwan dari berbagai etnis dan agama. Lembaga ilmu pengetahuan di Baghdad itu lantas menjadi pusat keunggulan sains dan filsafat yang terbuka bagi segenap ilmuwan dari pelbagai penjuru dunia, apa pun kebangsaan atau agama mereka. Dan di Andalusia, selama hampir 800 tahun orang-orang Yahudi menikmati zaman keemasannya. Mereka banyak yang mendapat kedudukan utama dalam pemerintahan golongan Muslim. Hasdai bin Shaprut (882-942), penasehat Khalifah Cordoba Abdurrahman III, dan Samuel bin Naghrillah yang menjadi jenderal di Taifa Granada pada 1027, adalah contoh yang masyhur atas kenyataan itu.

Kejayaan Yahudi di bawah Islam ini telah ditulis oleh banyak penulis Yahudi dan Kristen. Karen Armstrong, dalam A History of Jerusalem: One City, Three Faiths (London: Harper Collins Publishers, 1997), menulis "Under Islam, the Jews had enjoyed a golden age in al-Andalus."

Prof SD Goitein, seorang profesor Yahudi, bahkan mengakui bahwa bahasa Ibrani, pemikiran, hukum, dan filsafat Yahudi, disusun berdasarkan pengaruh Arab Muslim; "There, under Arab-Muslim influence, Jewish thought and philosophy, and even Jewish law and religious practice were systematized and finally formulated. Even the Hebrew language developed its grammar and vocabulary on the model of the Arab language." (SD Goitein, Jews and Arabs, Their Contacts through the Ages (New York: Schocken Books, 1974).

Dalam sejarah pemikiran dan kebudayaan Yahudi, para pemikir Yahudi mengadopsi bahasa Arab sebagai bahasa tulis dalam sains dan filsafat. Mereka juga menerjemahkan karya-karya besar di bidang-bidang itu, baik yang ditulis para pemikir Muslim maupun terjemahan Arab karya-karya Yunani, ke dalam bahasa Ibrani. Dengan demikian, kata-kata dan gagasan-gagasan dari dunia Islam meresap ke alam pemikiran Yahudi. (Fahmi Faqih)

Baca Juga : Roehana Koeddoes, Pahlawan Nasional, Wartawati Pertama Indonesia

 


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close