logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Guernica, Sebuah Perlawanan atas Fasisme

  • 21-11-2022

Indrajatim.com: Juli 1936, jenderal Francisco Franco melancarkan kudeta terhadap pemerintah Republik Demokratis Spanyol dan berhasil mencaplok sepetak wilayah negeri itu. Ketegangan di tingkat global semakin meningkat di malam Perang Dunia II. Perang saudara di Spanyol dengan cepat menjadi masalah internasional; Uni Soviet turun tangan membantu republik, Franco mendapat dukungan Jerman dan Italia.

Sebelumnya, pada 26 April 1937, anggota kru kapal perang Inggris H.M.S Hood menyaksikan pesawat tempur Jerman dan Italia dengan misi memborbardir kota kecil Basque, di Guernica, berkumpul di pantai utara Spanyol. Setengah lima sore, serangan dimulai. Ledakan besar dan pembakaran di kota yang tidak memiliki penjagaan itu berlangsung selama tiga jam. Berita menyebar. Koresponden perang George Lowther Steer dari Times of London bergegas menuju Guernica dan menyampaikan laporan untuk memperingatkan dunia: “Pukul 2 pagi saat saya mengunjungi kota ini, pemandangannya sangat mengerikan. Api menyala dari ujung ke ujung”. Steer menyatakan serangan itu tidak sekadar untuk tujuan militer, tetapi juga meneror warga sipil.

1 Mei 1937, Pablo Picasso, yang sejak Januari 1937 berada di Paris karena mendapat tugas dari pemerintah Spanyol membuat mural dengan tema "teknologi" untuk Paris World’s Fair, membaca peristiwa pembumihangusan kota Basque itu lewat catatan saksi mata Steer yang disiarkan surat kabar. Rencana pun berubah. Picasso yang sedih dan marah mengganti tema “teknologi” yang akan mengisi Paviliun Spanyol dengan sebuah skesta penuh kengerian yang kelak berlanjut menjadi lukisan terkenal di dunia; “Guernica”.

Baca Juga : Dolly Salim, Perempuan Pertama yang Menyanyikan Lagu Indonesia Raya saat Kongres Pemuda II

Guernica awalnya diterima secara negatif. Namun setelah Paris World’s Fair karya itu ditampilkan dalam tur yang berlangsung selama 19 tahun di seluruh Eropa dan Amerika Utara demi meningkatkan kesadaran akan bahaya fasisme serta untuk mengumpulkan dana bagi para pengungsi Spanyol, Guenica menjadi terkenal. Picasso bahkan mengatakan, ia tak ingin lukisannya dipulangkan ke Spanyol sampai tanah airnya itu kembali menjadi republik.

Tahun 1975, dua tahun setelah kematian Picasso, diktator Franco meninggal dan Spanyol melakukan transisi dari negara demokrasi menjadi monarki konstitusional. Mimpi Picasso akan negara republik, kandas, dan pada 1981 Guernica kembali ke Spanyol untuk dipamerkan di Museum Prado, Madrid.

Hari ini, ketika perang masih menjadi ancaman bagi umat manusia di seluruh dunia, gambaran Guernica akan teror dan penderitaan tetap menjadi karya seni antiperang penting dari abad ke abad. Selama bertahun-tahun kalangan seniman dan kritikus masih mengagumi citra kuat Guernica dan terus berusaha menjelaskannya. (Fahmi Faqih)

Baca Juga : Ketika Kaum Yahudi Berada di Bawah Perlindungan Islam


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close