Politik

Listiyono Santono: Gerakan Mahasiswa Adalah Gerakan Moral

Indrajatim.com – Surabaya: Dr. Listiyono Santoso, pakar filsafat Universitas Airlangga mengutarakan sejumlah kritik terhadap unjuk rasa yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa pada 11 April 2022 di depan gedung DPR RI. Isu pertama yang ia soroti adalah terkait wacana 3 periode masa jabatan presiden RI yang turut digaungkan oleh aksi massa. Menurutnya, mahasiswa jangan sampai terjebak pada situasi politik yang menimbulkan implikasi-implikasi inkonsitusional untuk melakukan amandeman UUD 1945.

Ia juga menambahkan, mahasiswa seharusnya berdiri sebagai gerakan yang murni untuk mengontrol kekuasaan atau kebijakan pemerintah. Hal tersebut juga berlaku pada wacana 3 periode masa jabatan presiden RI yang seharusnya ditujukan kepada elit politik untuk tidak lagi menjadikan isu tersebut sebagai implikasi belaka, melainkan ditetapkan sebagai keputusan yang sah.

“Mahasiswa harus arif betul melihat situasi ini, jangan sampai gerakan ini yang meraih keuntungan adalah kelompok-kelompok yang memang sengaja mengambil suasana supaya mendelegitimasi kekuasaan negara, ini yang harus dipahami oleh gerakan mahasiswa. Apalagi jika isu awalnya adalah isu terkait penundaan pemilu, padahal itu sudah jelas dibantah. Harusnya kalau itu menjadi isu, bukan lagi meneriakkan penundaan pemilu, melainkan meneriakkan pada elit politik untuk tidak lagi menjadikan itu sebagai sebuah wacana. Karena wacana itu akan menimbulkan implikasi-implikasi, akhirnya muncullah keinginan untuk melakukan amandemen UUD 1945,” tuturnya.

Kritik kedua dari penulis buku berjudul Epistemologi Kiri ini adalah perihal kondisi mahasiswa untuk menjadikan aksi turun ke jalan hanya sebagai sebuah citra yang harus dibangun dalam diri seorang mahasiswa tanpa didasari oleh narasi-narasi akademik serta ide dan gagasan yang mendalam. Sehingga tak heran apabila kondisi demonstrasi mahasiswa hari ini terlihat tidak dipikirkan secara serius dan pada akhirnya hanya menjadi gerakan yang kondradiktif dengan nilai-nilai demokrasi.

Listiyono juga menambahkan bahwa langkah yang seharusnya dilakukan oleh mahasiswa adalah dengan jalan-jalan yang arif dan bijaksana, misalnya dengan melakukan uji publik dan turut memberikan solusi dengan membuat paper akademik terkait isu yang digulirkan.

“Kalau mau arif seharusnya jangan melakukan demonstrasi dengan sifatnya seperti itu, arah bidikan isu yang dimainkan harus jelas. Misalnya dengan membuar paper-paper kajian terkait solusi dari kelangkaan minyak, kemudian diajukan ke DPR, sehingga masanya akan lebih jelas dan langkahnya terlihat lebih cerdas. Tapi, kalau dengan langkah tersebut masih tidak adanya solusi dan betul-betul paham terkait isu kelangkaan minyak, baru kemudian mereka bisa melakukan aksi, itu yang disebut diskusi-aksi-refleksi,” ucap pria bergelar doktor tersebut.

Menurut Wakil Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga tersebut gerakan mahasiswa adalah gerakan moral yang didasari oleh hati nurani untuk turut menyuarakan aspirasi bagi kepentingan publik, karena hal tersebut menjadi bagian dari idealisme mahasiswa. Sehingga seharusnya berdiri secara independen dan tidak ditunggangi oleh elit golongan tertentu.

“Satu-satunya kekayaan mahasiswa adalah idealisme, maka jangan dijual, jangan digadaikan, justru karena mereka idealis, maka gerakan mahasiswa adalah gerakan moral. Karena mereka digerakkan bukan karena uang, tetapi digerakkan oleh hati nurani, untuk kepentingan masyarakat,” tutupnya.[Canty]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button