logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Pingky Ayako dan Karya Seni Kampung Tambak Bayan

  • 21-11-2022

Indrajatim.com – Surabaya: 12 tahun lalu pertama kali perempuan itu menginjakkan kaki di perkampungan kecil yang letaknya di tengah-tengah Kota Surabaya, Kampung Tambak Bayan. Namanya Pingky Ayako Saputro. Sejak datang ke Tambak Bayan, perempuan berdarah Jepang Indonesia itu mengatakan serasa menemukan “rumah”.

“Hidupku sejak kecil berpindah-pindah (nomaden). Aku juga tipikal tidak betah di rumah tapi di Tambak Bayan saya sangat betah. Bagiku, rumah bukanlah bangunan tapi orang dan lingkungan, di sana saya sangat merasa diterima,” kata Pingky Ayako kepada indrajatim.com.

Tambak Bayan, sebuah kampung kecil yang berada di tengah-tengah Kota Surabaya persisnya di Kelurahan Alun-Alun Contong, Bubutan. Kampung ini letaknnya di sebelah Barat Kalimas dan sebelah Timur Jalan Kramat Gantung.

Dikenal sebagai salah satu kampung tertua di Kota Pahlawan, pada tahun 2011 kampung ini nyaris tergusur rata. Pasalnya, terjadi konflik sengketa lahan dengan sebuah Hotel V3 yang letaknya tak jauh dari Kampung Tambak Bayan. 

Baca Juga : Cinta Dan Harapan Pada Kehidupan Tambak Bayan dalam Lukisan Pingky Ayako

Pingky mengatakan, setelah 10 tahun berlalu, pemilik lahan Loe Tun Bie memberikan sebuah penawaran kepada masyarakat setempat untuk menjadikan Tambak Bayan sebagai Kampung Wisata Pecinan.

“Teman-teman penggiat Tambak Bayan akhir-akhir ini gencar mensosialisasikan janji Pak Loe Tun Bie yang akan membangun Kampung Wisata Tambak Bayan supaya propertinya hidup dan warga tidak perlu direlokasi,” ungkap perempuan kelahiran Jakarta tersebut.

Katanya, walau mayoritas penghuni Kampung Tambak Bayan berlatar belakang etnis Tionghoa, budaya pecinan tidak begitu terasa. Kehidupan masyarakat di sana cenderung sudah terakulturasi dan terbuka dengan warga lain sekitar Tambak Bayan.

“Mereka tidak begitu pecinan seperti orang bayangkan. Branding kampung pecinan memang cocok tapi bukan pecinannya. Keterbukaan mereka, berpotensi melahirkan kreatifitas, brandnya lebih cocok disebut kampung kreatif atau kampung seni pecinan gitu,” paparnya.

Sebagian kawannya menyebut Pingky sebagai “manusia setengah seniman dan setengah aktivis”. Bersama anak-anak muda dari berbagai komunitas dan masyarakat Tambak Bayan, Pingky memulai giatnya memperjuangkan tanah Tambak Bayan melalui jalur kesenian.

“Kemudian kami tergerak kami mempelajari dan mencari cara sebisanya untuk membantu warga di sini melewati krisis ini bukan karena awalnya jiwa aktivisme. Tapi karena kita merasa sangat diterima, secara naluriah aku juga merasa memiliki kampung ini,” ujarnya.

Salah satu kegiatan yang Pingky inisiasikan untuk warga Tambak Bayan adalah pameran lampion. Kini, pameran lampion seakan sudah menjadi agenda tahunan, karena selalu digelar setiap Hari Imlek.

“Awalnya aku ngajakin teman-teman untuk pameran lampion untuk memperbaiki atap gedung yang bocor. Sekarang sudah menjadi kegiatan tahunan,” terangnya.

 Jiwa seninya memang sudah dia dapat sejak kecil. Sempat menduduki bangku perkuliahan dengan fokus pendidikan arsitektur, jadi tak ayal jika Pingky sangat menyukai dunia seni lukis, penata artistik, hingga seni instalasasi.

Puluhan karya yang berhasil dia ciptakan tak jauh dari nuansa masyarakat Tambak Bayan, salah satunya berbentuk instalasi lampion. Berkas foto copy surat hukum sengketa tanah dia sulap menjadi belasan lampion. Dipasang tak beraturan, setiap lampion-lampion itu dipasang lampu kecil. Pengait lampion tergantung beberapa kertas yang berisi harapan masyarakat Tambak Bayan.

“Aku membuat instalasi ini untuk merepresentasikan kelelahan warga Tambak Bayan untuk melawan. Mangkanya judulnya “Tired of Fighting. Bentuknya aku ambil dari lampion terbang saat Waisak yang dilambangkan sebagai doa dan harapan warga Tambak bayan untuk memiliki tempat tinggal sendiri,” jelas Pingky.

Tahun-tahun berganti, semakin banyak anak-anak muda yang ikut berkumpul menggelar kegiatan kesenian di Tambak Bayan Pingky dan seniman lain memutuskan untuk membuat ruang kolektif, Institut Seni Tambak Bayan atau ISTB.

“Perjuangan kami cenderung melalui kesenian, karena rata-rata latar belakang kami seniman. Secara naluriah, perjuangan Pingky dan seniman lain cenderung berjalan melalaui jalur kesenian. Kalau kita menyuarakan sesuatu, aku kira seni adalah pilihan terbaik yang paling tepat,” pungkas perempuan lulusan Universitas 17 Agustus Surabaya dalam menutup obrolan.  

Apa yang sudah, sedang dan akan diperjuangkan Pingky Ayako dan kawan - kawan, adalah bentuk keseriusan yang menyeluruh atas kepedulian terhadap lingkungan. Kecintaan mereka terhadap kehidupan Tambak Bayan, akhirnya dapat diimplementasikan dengan gagasan  - gagasan yang membawa kemajuan, untuk terciptanya kehidupan bersama yang lebih baik, tanpa harus saling korbankan. (Izzatun Najibah)

Baca Juga : Asa Masa Depan Seni Teater Pasca Penutupan Parade Teater Jawa Timur 2022


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close