logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Cinta Dan Harapan Pada Kehidupan Tambak Bayan dalam Lukisan Pingky Ayako

  • 21-11-2022

Indrajatim.com – Surabaya: Potret kehidupan yang dibingkai dalam karya lukis dengan judul “Nostalgia Futang, Children of The Ruins, dan Di sini Ada Pantai” merupakan tiga lukisan karya Pingky Ayako yang dipamerkan pada Solo Exhibitionnya, di ArtLab Lounge 11-18 November 2022.

Selaras dengan tajuk pamerannya, “Panjang Umur Tambak Bayan”, tiga lukisan tersebut menceritakan kehidupan masyarakat Tambak Bayan.

Tambak Bayan sendiri yakni sebuah kampung kecil yang letaknya tak jauh dari pusat Kota Surabaya, tepatnya di Kecamatan Bubutan. Mayoritas penghuninya merupakan keturunan Tionghoa.

Sudah belasan tahun seniman lulusan arsitektur tersebut berkecimpung dan berbaur dengan masyarakat Tambak Bayan. Dia sendiri bukanlah warga asli Surabaya, tapi kedekatannya dengan Kampung Tambak Bayan meyakinkan dirinya bahwa kampung itu telah menerimanya layaknya penghuni tetap.

“Buat aku, Kampung Tambak Bayan adalah rumah. Dari kecil, aku suka nomaden, aku juga tipikal tidak betah di rumah tapi di Tambak Bayan aku merasa betah. Karena aku betul-betul diterima,” ungkapnya.

Baca Juga : Kemeriahan Malam Puncak Festival Gubernur Suryo

Kedekatannya dengan masyarakat Tambak Bayan dia interpretasikan melalui sebuah lukisan.

Lukisan karya Pingky Ayako (indrajatim.com/Muni)

Lukisan pertama, Pingky beri judul Nostalgia Futang. Terlihat seorang perempuan muda sedang berbincang dengan pria dewasa berprofesi sebagai tukang kayu.

“Aku mencoba menceritakan tentang profesi masyarakat Tambak Bayan. Jadi leluhurnya orang-orang Tambak Bayan adalah dari cina daratan kelas pekerja. Jadi kebanyakan mereka dulunya mereka adalah tukang kayu,” tuturnya.

Namun, profesi Tukang Kayu saat ini sudah hampir mengalami kepunahan. Banyak masyarakat Tambak Bayan yang juga berprofesi sebagai koki dan penjahit. Kendati demikian, masyarakat Tambak Bayan hidup dengan penuh harmonis dan berdampingan.

“Walau profesi itu sekarang sudah hampir punah, hanya tinggal satu dua (sedikit) orang. Jadi sebelah kanan gambaran masa lalu, kiri gambaran masa kini,” ujarnya.

Lukisan karya Pingky Ayako (indrajatim.com/Muni)

Lukisan kedua, bertajuk Children of The Ruins. Empat anak kecil berdiri membelakangi salah satu temannya yang menggunakan helm. Sebuah permainan sedang mereka mainkan. Salah satu dari empat anak tersebut terlihat sedang memukul kepala pengguna helm. Kemudian, anak pengguna helm akan menebak siapa pemukul. Gelak tawa sangat terasa pada gambaran lukisan tersebut.

“Secara perilaku dan moral mereka memang cukup keras. Baru beberapa bulan terakhir ini, beberapa temen-temen yang aktif menggelar kelas setiap hari minggu. Dari situ kita mulai mengenal mereka secara personal, mereka punya pemikiran yang tajam, tangannya terampil, fisiknya kuat,” terang Pingky.

Lukisan karya Pingky Ayako (indrajatim.com/Muni)

Lukisan terakhir, Di Sini Ada Pantai. Beberapa orang terlihat sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Mereka duduk bersama di tepian pantai. Sedang satu buah tenda berdiri di sebuah pulau, di tengah-tengah laut. Serta, sembilan ikan koi digambar mengelilingi laut. 

Kata Pingky, lukisan tersebut menggambarkan perasaannya terhadap ISTB (Institut Seni Tambak Bayan). ISTB sendiri merupakan sebuah ruang seni yang dibentuk secara kolektif oleh beberapa orang dari berbagai komunitas seni di Surabaya. Mereka aktif menggelar kegiatan di lingkungan Kampung Tambak Bayan sebagai bentuk dukungan terbentuknya Kampung Wisata Pecinan. 

“Di Tambak Bayan ada satu tanah yang lumayan luas yang dulu digusur oleh pemilik tanah setelah dibeli satu persatu tanahnya. Ketika sudah terbeli besoknya langsung dirobohkan. Di lahan yang sekarang menjadi tanah lapang anehnya ada satu atau dua pohon kelapa, aku melihat tempat ini kayak pantai. Pohon kelapa itu tumbuh digundungan di puing-puing bangunan,” paparnya.

Sebagai informasi, tahun 2011 terjadi sengketa tanah Kampung Tambak Bayan dengan pemilik Hotel V3 yang letaknya tak jauh dari kawasan tersebut. Sehingga, sebagian besar warga Tambak Bayan pernah dipaksa untuk relokasi. Namun, kemudian pemilik lahan memberikan penawaran dengan menjadikan Tambak Bayan sebagai Kampung Wisata Pecinan.

“Waktu itu suasananya sangat menyenangkan sekali. Ada teman-teman yang ikut gabung. Yang tenda itu adalah rumah Ko Gepeng. Rumah Ko Gepeng sangat identik dengan kura-kura yang ditaruh di kamar mandi. Kalau ikannya jumlah sembilan menurut Fengsui melambangkan keberuntungan,” ucap Pingky dalam menutup obrolan.

Kecintaan dan harapan adalah kesenian yang mampu menghadirkan kejujuran. Begitupun dalam karya lukisan Pingky Ayako, tampak kejujuran yang siratkan harapan dan kecintaannya terhadap kehidupan harmonis di tambak bayan. (Izzatun Najibah)

Baca Juga : Asa Masa Depan Seni Teater Pasca Penutupan Parade Teater Jawa Timur 2022


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close