logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Agus Yusuf, Pelukis Difabel Tuna Daksa yang Luar Biasa

  • 24-11-2022

Indrajatim.com – Madiun: Sekilas, tampak samar coretan gambar di kanvas putihnya itu, terlihat menyerupai pohon bambu dengan ujung daun yang berbentuk runcing dan berwarna hijau. Agus Yusuf namanya, dialah sosok di balik coretan-coretan itu. Seorang difabel daksa tanpa lengan dan satu kaki yang begitu lihai melukis dengan menggigit kuas di mulutnya dan menjepitnya di sela-sela jari kaki.

Pria berusia 56 tahun tersebut telah akrab menjajaki dunia seni lukis sejak masih kelas 2 sekolah dasar.  Ia konsisten dengan aliran yang naturalis dan realis, yakni dengan mengedepankan kekuatan objek yang terlihat realistis dan memotret keindahan panorama alam dan makhluk hidup.

“Mulai menggeluti dunia lukis sejak kelas 2 sekolah dasar, itu sudah tampak jiwa seninya,” ucap Agus.

“Saya konsisten melukis alam dan binatang, karena kita tidak bisa terlepas dari kedua unsur tersebut,” imbuhnya.

Baca Juga : Pingky Ayako dan Karya Seni Kampung Tambak Bayan

Agus merupakan sosok tangguh yang memiliki semangat juang luar biasa dalam menjalani hidup. Saat masih sekolah dasar, ia sudah menunjukkan ketangkasannya di berbagai lini. Selain menggeluti dunia seni lukis, pria asal Madiun itu juga menjadi anak difabel pertama yang belajar di sekolah umum di masa tersebut dan melakukan segala hal dengan satu kakinya, seperti bermain sepak bola, beribadah, mengendarai sepeda; mobil, melakukan pekerjaan rumah tangga, hingga bertani.

“Saya bersekolah sejak SD di sekolah umum, jadi terbiasa untuk mandiri. Saya berprinsip untuk hidup di kalangan orang-orang normal, saya harus bisa walaupun dengan kekurangan saya, tetapi dalam segala hal saya bisa mengerjakan semua. Misalnya sepak bola, menggembala kambing di sawah, bertani, mencuci, setrika, menyetir mobil, dan banyak hal,” jelas Agus.

Ketika lulus SMA, tepatnya pada tahun 1989, Agus mengirimkan karyanya ke Association of Mouth and Foot Painting (AMFPA) atau yayasan perhimpunan pelukis dengan mulut dan kaki yang berlokasi di Switzerland.

Dalam AMFPA, terdapat tiga tingkatan yang harus dilewati oleh Agus untuk menjadi anggota, yakni student member, associate member, hingga full member. Pada tahun 1989 sampai 2013 Agus menjadi anggota student member atau calon anggota, tahapan paling awal untuk menjadi anggota, sehingga ia diharuskan mengirim lukisan pribadi terbaiknya selama tiga bulan sekali yang dikirimkan melalui pos, dari yayasan itulah Agus juga mendapatkan hasil penjualan karya-karyanya.

Hingga pada tahun 2013, Agus mendapatkan sebuah nafas segar yang membahagiakan, yakni peningkatan dari student member ke associate member. Sehingga, Agus resmi diakui sebagai anggota AMFPA, Penilaian tersebut berdasarkan perkembangan Agus dalam menggoreskan coretan-coretan yang semakin baik dan berkualitas.

“Dan di tahun 2013 saya bisa diterima di tingkatan associated Switzerland, dan sudah diakui sebagai pelukis,” ucapnya.

Hingga saat ini, Agus tetap istiqomah dengan pilihan hidupnya untuk sebagai pelukis difabel yang begitu berbakat dan memiliki tekad kuat. Berbagai pameran pernah diikutnya  sampai di berbagai belahan dunia, mulai dari benua Asia hingga Eropa.

Untuk menutup tahun 2022, Agus Yusuf juga terlibat sebagai salah satu pelukis yang turut memamerkan karya-karya terbaiknya dalam Pasar Seni Lukis Indonesia 2022 tepatnya pada 18-27 November 2022, sekitar 12 lukisan ciptaannya masuk dalam stan di Jatim Expo Surabaya. Uniknya, keseluruhan lukisan yang ia bawa adalah bergambar bunga. Lukisannya begitu tampak nyata dan kuat.

Sebuah proses hidup yang tidak mudah dengan keterbatasannya. Namun apa yang dilakukan dan diputuskan Agus Yusuf menjadi seniman lukis sebagai jalan hidup, adalah jalan luar biasa yang mempertemukan berbagai kebahagiaan dalam hidupnya. (Canty Nadya Putri)

Baca Juga : FOLKS! Menjadi Tema Indonesia Dramatic Reading Festival 2022


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close