logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Teater Mata Angin UNAIR gelar pertunjukan Dumadi di Gedung Kesenian Cak Durasim

  • 15-11-2022

Indrajatim.com –Surabaya: Tepuk tangan penonton terdengar menggema di gedung pertunjukan saat lampu panggung perlahan meredup dan tirai panggung pelan-pelan tertutup. Begitulah kiranya suasana usai pertunjukan yang digelar dalam Renoviesta 2022, rangkaian acara terbesar dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Teater Mata Angin Universitas Airlangga, pada Senin malam (14/11) di Gedung Kesenian Cak Durasim, komplek Taman Budaya Jawa Timur, Genteng Kali, Surabaya.

Dumadi menjadi tema dari dua judul pementasan malam tadi. Dua-duanya mengangkat soal spiritualitas dan budaya Indonesia. Kegiatan Teater Mata Angin ini merupakan agenda rutin tiap tahun, selain agar semakin guyub dan percaya diri, tujuannya juga untuk mengenalkan wajah-wajah anggota baru Teater Mata Angin, angkatan 2021.

Kata Dumadi diambil dari bahasa Jawa yang artinya terjadi, atau terlaksana. Menurut Evi Anggraini, Ketua Pelaksana Renoviesta 2022, gagasan mereka dalam pementasan kali ini adalah berkaitan dengan budaya Indonesia yang masih kental akan kepercayaan animisme dan dinamisme atau sebuah kepercayaan pada roh leluhur dan sifat materi benda-benda yang memiliki kekuatan tersendiri.

“Dalam pementasan ini menggunakan judul acara Dumadi yang berarti terjadi atau terlaksana, yakni berkaitan dengan sesuatu yang dapat terjadi karena ada kepercayaan yang mendasari tindakan seseorang,” tutur Evi.

Baca Juga : Buggy dan Syamduro dengan Lukisan Kupu-Kupu serta Bunganya

Lebih dari 400 penonton tampak kagum dengan dua pertunjukan itu. Masing-masing naskahnya berjudul “Roh” karya Wisran Hadi, dan “Cannibalogy” karya Benjon. Evi menambahkan bahwa terdapat tantangan tersendiri dalam mempersiapkan acara yang prosesnya berjalan sejak bulan Juni 2022 lalu.

Pementasan Naskah "Roh" karya Wisran Hadi (Foto/canty)

“Sempat terkendala untuk pematangan konsep dari naskah yang akan dibawakan dan menentukan jadwal latihan, karena kami masih berkuliah dan kesibukan lain,” ucap mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik tersebut.

Namun, segala jerih payah terbayar dengan sebuah pertunjukan yang menarik, baik dari tata artistik, musik, serta akting dari masing-masing aktor.

Sementara itu, Sutia, sutradara dari naskah “Roh” berharap bahwa dengan pementasan tersebut, penonton dapat merasakan setiap pesan dari permainan emosi para tokoh.

“Naskah ini bercerita tentang pilunya kisah seorang ibu yang kehilangan anak kesayangannya. Rasa cinta yang begitu besar membawa ibu suri menemui sosok perantara bernama Manda yang menjadi harapan terakhir baginya untuk bertemu anak tercinta. Sehingga kami ingin mengajak penonton untuk ikut merasakan setiap perubahan emosi oleh parah aktor dan pesan dari naskah tersebut,”

Acara tersebut ditutup pertunjukan puisi oleh Adnan Guntur. Dengan latar panggung yang ditata sedemikian rupa, serta musik yang menyatu dengan puisi dan konsep dua pertunjukan sebelumnya, benar-benar terasa. (Canty Nadya Putri)

Baca Juga : Didapuk Jadi Komandan Kontingen, Ketua DPRD Kusnadi Optimis PWI Jatim Juara Umum Porwanas


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close