logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Sari Saqati

  • 14-10-2022

Indrajatim.com: Suatu hari, Sari Saqati, paman dari Al-Imam Junaid, pemuka kaum salih di zamannya, berkata, "Selama tiga puluh tahun aku beristighfar kepada Allah atas satu ucapan alhamdulillah yang pernah aku ucapkan."

Ketika ditanya hal apa yang membuat ia melakukan itu, Syaikh Sari bercerita.

"Ketika terjadi kebakaran besar di Baghdad, seseorang datang memberitahuku bahwa toko milikku selamat. Waktu itulah aku mengucapkan alhamdulillah yang harusnya tidak kuucapkan itu."

"Kenapa demikian, wahai Syaikh Sari? Bukankah ucapan alhamdulillah tidak dilarang dalam agama, bahkan ketika selamat dari suatu musibah, sebagai ungkapan syukur, mengucap alhamdulillah malah dianjurkan?," tanya salah seorang yang hadir di majlisnya.

Baca Juga : Sanggar Lidi Surabaya Lakukan Audiensi Bersama Anggota Komisi E DPRD Jatim

"Benar," jawab Syaikh Sari. "Mengucapkan kalimat syukur ketika terhindar dari musibah tidaklah dilarang dalam agama, bahkan dianjurkan. Hanya saja ketika musibah itu menimpa orang banyak, Islam mengajarkan kita untuk lebih mengutamakan adab. Waktu itu, karena merasa senang, aku lupa bahwa bahwa ucapan alhamdulillah-ku tidaklah pantas didengar oleh mereka yang tokonya habis terbakar. Aku telah menambah beban kesedihan di hati mereka dengan ucapan alhamdulillah itu."

Adab merupakan bagian dari akhlak Islam yang tidak dapat dipisahkan baik hubungannya dengan Tuhan, dengan sesama manusia, bahkan dengan semua ciptaanNya. Dalam kasus Syaikh Sari, ia telah mencederai hak orang lain yang bernasib malang untuk mendapatkan simpati, solidaritas, bahkan pertolongan – lepas dari persoalan apakah yang tertimba musibah meminta atau tidak.

Namun Syaikh Sari adalah Syaikh Sari, manusia yang telah membuktikan ketaqwaannya dengan ilmu, amal, keikhlasan dan akhlak mulia sepanjang hidupnya. Ia mendapat keridhaan Allah. Karenanya, ketika kekeliruan sehalus itu ia lakukan, Allah cepat menyadarkannya. Lalu bagaimana dengan kita, manusia-manusia yang lebih banyak lalai ketimbang ingat ini? Yang lebih sering mengikuti bujuk rayu hawa nafsu ketimbang menolak dan memeranginya?

Tentu kita tidak boleh berputus asa atas rahmat Allah. Selama nafas belum sampai di tenggerokan, pintu pengampunan tetap dibukakan untuk kita. Akan tetapi kita tak boleh menunggu karena kita tidak tahu sampai batas mana perjalanan kita – kapan kematian menjemput kita. (Fahmi Faqih)

Baca Juga : Sufi Satir Nasruddin Hoja (1)


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close