logo
- Sponsored Ad - Advertisement

Kisah Ibrahim ibn Adham dan Seorang Musafir

  • 21-10-2022

Indrajatim.com: Dalam pengembaraan ke gurun pasir untuk beribadah kepada Allah dan merenungkan kebesaranNya, sufi besar Ibrahim ibn Adham berjumpa dengan seorang musafir dan terlibat percakapan dengannya.

"Aku melihat ada cahaya kebaikan memancar dalam dirimu. Allah menyertaimu," ujar Ibrahim.

"Benar, Allah memang tengah bersamaku, wahai Ibrahim," jawab musafir itu.

"Dari mana kau tahu namaku," tanya Ibrahim, terkejut karena musafir ini tahu dengan dirinya.

"Aku tidak lagi bodoh sejak aku mengenal Allah." Dalam sebuah hadist disebutkan, "Takutlah akan firasat orang mukmin, karena ia melihat dengan cahaya Allah," jawab si musafir.

"Bisa engkau tunjukkan bagaimana engkau bersama Allah," tanya Ibrahim lagi.

Musafir itu lantas menghadap kiblat seraya mengucap "Allah" dengan suara yang panjang, lalu tersungkur.

Musafir itu meninggal.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un ... Gara-gara aku, seorang saleh, seorang kekasih Allah, meninggal dunia," gumam Ibrahim sedih.

Dengan penuh sesal, Ibrahim pergi mencari kampung terdekat. Kepada penduduk ia katakan.

Baca Juga : Sanggar Lidi Surabaya Sukses Gelar Pertunjukan Teater “Gayatri”

"Di sana ada orang saleh meninggal dunia. Tolong bawakan kain kafan dan pengawet. Kita harus ke sana untuk mengurus jenazahnya, memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkannya."

Sebuah keanehan terjadi. Benar-benar aneh! Setibanya Ibrahim bersama penduduk kampung ke tempat di mana mayat musafir itu berada, mereka tidak menemukan apa-apa. Jenazah itu raib. Mereka mencarinya seharian penuh, tetapi hasilnya tetap nihil. Padahal, Ibrahim yakin benar di mana ia baringkan jenazah itu sebelum pergi ke perkampungan penduduk.

Namun di dalam kebingungannya, tiba-tiba terdengar suara.

"Tidak perlu kau cari jenazah musafir itu. Allah telah menetapkan bahwa jenazah musafir itu tidak dimandikan, tidak dikafani, tidak disalati, dan tidak dikuburkan oleh siapapun selain oleh para malaikat yang suci."

Ibrahim terkejut dan bertanya, " Apa sebenarnya keistimewaan orang ini?"

Suara itu menjawab.

"Suatu hari, ketika berada di kampungnya, musafir itu keluar rumah karena tak lagi memiliki makanan untuk dimakan. Sesampainya di jalan, ia menemukan sekeping roti kering sisa yang telah dibuang orang. Ia memungutnya. Namun ketika roti ia basahi dan mulai ia makan, tiba-tiba seorang nenek renta yang tak kalah miskin, datang. Tubuh nenek itu gemetaran karena menahan lapar. "Nak, berikan makanan itu kepadaku, semoga Allah memberimu yang lain," pintanya.

Tanpa pikir panjang, musafir itu memberikan sisa roti di tangannya, bahkan roti yang sudah ia kunyah pun ia keluarkan. "Ambillah, nek," katanya, sembari menyodorkan roti itu.

Nenek itu menerimanya. Membaca basmalah, dan memakannya sampai tak tesisa. Setelah dirasa tubuhnya mulai segar, nenek itu mengangkat tangan dan berdoa, "Semoga Allah membebaskanmu dari perbudakan nafsumu layaknya Ia membebaskanmu dari perbudakan lapar."

Allah mengabulkan doa sang Nenek dan menjadikan musafir itu sebagai waliNya di muka bumi. (Fahmi Faqih)

Baca Juga : Sari Saqati


- Sponsored Ad - Advertisement

Press ESC to close