Budaya

Gempa dan Perlunya Kembali ke Khazanah Pengetahuan Nenek Moyang

Indrajatim.com – Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa teritori Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, Eurasia, Indo Australia dan Pasifik yang disebut Jalur Cincin Api Pasifik, rawan akan terjadinya gempa bumi. Akan tetapi di masa lalu, nenek moyang kita, dengan kearifan yang mereka miliki, dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan alam.

Salah satu contoh konkret kearifan tersebut adalah hunian―baik yang berbahan baku kayu maupun bambu seperti di Tatar Sunda. Rumah mereka yang kita sebut dengan rumah adat itu, sekalipun bentuknya beragam, namun memiliki kesamaan dalam struktur bangunan yang lentur hingga mampu meredam guncangan vertikal dan gaya horizontal gempa.

Sejarawan William Marsden (1783) mencatat, pembangunan rumah panggung dari kayu di Sumatera bukanlah semata-mata untuk menghindari gangguan binatang buas, tetapi, ”Alasan kuat mengapa rumah-rumah memakai material kayu karena seringnya terjadi gempa bumi di wilayah ini.”

Ketika teknologi batu bata diperkenalkan Belanda, kebanyakan warga tak mau menggunakannya. Sebagaimana dikisahkan Muhamad Radjab dalam autobiografinya, Semasa Kecil di Kampung, 1913-1928 terbitan Balai Pustaka tahun 1974, ketika terjadi gempa pada 28 Juni 1926.

”Orangtua mengatakan kepada kami, bila gempa jangan bersembunyi di rumah, tetapi harus berlari ke lapangan supaya jangan ada yang menimpa dan mengimpit,” tulis Radjab. ”Barulah kami insaf. Tadi kami tidak tahu karena belum ada pengalaman. Untunglah surau kecil bukan dari batu.”

Radjab juga menyebutkan sebagian warga yang waktu itu mulai beralih ke rumah tembok, para penghuninya banyak yang celaka. ”Rumah bata semuanya roboh oleh gempa. Beratus-ratus orang mati tertimbun,” tulis Radjab.

Catatan Marsden dan Radjab menegaskan, bahwa masyarakat Sumatera sejak dulu sadar terhadap ancaman gempa dan mereka meresponsnya dengan bangunan tahan gempa. Jejak adaptasi itu masih bisa dilihat dari rumah-rumah tradisional Saibatin di Desa Sebarus, Kecamatan Balik Bukit, Kabupaten Lampung Barat yang dibangun berbentuk panggung dengan panjang sekitar 20 meter dan lebar 9 meter dan terdiri atas tiga kamar, beranda depan, ruang tamu, ruang keluarga, tempat makan atau dapur, dan ruang tambahan di belakang rumah.

Contoh lain, tentu kita tentu masih ingat gempa berkekuatan 7,8 SR yang mengguncang Nias tahun 2010. Waktu itu puluhan orang terluka dan ratusan rumah luluh lantak karena gempa. Tapi Omo Hada atau rumah tradisional Nias yang dibangun dari bahan kayu yang disusun dan disatukan satu pasak dan memiliki bentuk rumah panggung dengan ukuran besar memanjang ke belakang seperti sebuah kapal, terbukti kokoh menahan gempa.

Begitupun dengan rumah tradisional Sunda/Jawa Barat. Struktur bangunannya memang menggunakan bambu dengan sistem ikatan antar komponen bangunannya serta lantai panggung yang tingginya sekitar 60 centimeter. Namun dengan struktur seperti ini, bila terjadi guncangan gempa, bangunan hanya bergoyang dan tidak mengalami kerusakan. Lantai panggung setinggi 60 sentimeter itu, efektif menjaga bangunan tetap utuh mesti jatuh ke permukaan tanah bila terjadi tanah longsor.

Rumah tahan gempa berdasarkan kearifan lokal memang mengutamakan konstruksi yang lebih fleksibel. Contoh lainnya lagi adalah rumah joglo. Ada beberapa keutamaan mengapa rumah joglo lebih tahan terhadap gempa. Pertama, rangka utama (core frame) yang terdiri dari umpak, soko guru, dan tumpang sari, dapat menahan beban lateral yang bergerak horizontal ketika terjadi gempa. Kedua, struktur rumah joglo yang berbahan kayu menghasilkan kemampuan meredam getaran/guncangan yang efektif, lebih fleksibel, juga stabil. Struktur dari kayu inilah yang berfungsi meredam efek getaran/guncangan dari gempa. Ketiga, kolom rumah yang memiliki tumpuan sendi dan rol, sambungan kayu yang memakai sistem sambungan lidah alur dan konfigurasi kolom anak (soko-soko emper) terhadap kolom-kolom induk (soko-soko guru) merupakan unsur-unsur fleksibilitas dari rumah joglo terhadap gempa.

Kiranya kearifan nenek moyang ini tidaklah pantas kita tinggalkan hanya demi mengejar kenyamanan hidup modern semata. Karena pengetahuan mereka, teknologi mereka, terbukti mampu membuat kehidupan mereka selaras dengan lingkungan dan alam semesta. (Fahmi Faqih)

Berita Lainnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button